Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. as-Sholatu was salamu ‘ala Khatamin Nabiyyin Muhammadin wa ‘ala alihi wa ash-habihit thahirin wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumid din. Amma ba’d.
Sesungguhnya al-Qur’an mengandung pelajaran dan bimbingan bagi umat manusia. al-Qur’an memberikan tuntunan bagi mereka agar bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan, antara iman dengan kekafiran, antara tauhid dengan kesyirikan, antara taat dan kemaksiatan, antara jalan menuju surga dengan jalan menuju neraka, antara sosok manusia teladan yang pandai bersyukur kepada Rabbul ‘alamin dan sosok manusia yang tidak pandai bersyukur kepada ar-Rahman.
Oleh sebab itulah, kami berkeinginan -dengan senantiasa memohon taufik kepada Allah ta’ala- untuk ikut serta menyajikan pembahasan tafsir ayat-ayat suci kepada sidang pembaca yang mulia. Kami berharap hal ini bisa mengikis kebodohan kami dan memberikan manfaat bagi saudara-saudara kami kaum muslimin. Allah lah tempat kami meminta pertolongan.
Pada kesempatan ini kami akan memulai pembahasan tafsir sebuah surat yang sangat mulia yaitu surat al-Fatihah. Sebuah surat yang berulang kali dibaca oleh setiap muslim di setiap harinya, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya. Dalam menyusun tulisan ini kami akan berusaha untuk merujuk kepada kitab-kitab tafsir dan syarah/penjelasan hadits yang telah disusun oleh para ulama kita, semoga Allah merahmati mereka semua. Semoga Allah memudahkan amal ini untuk ikhlas karena-Nya, bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, dan istiqomah hingga kesudahannya.
Surat paling agung dalam al-Qur’an
al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:
قال الإمام أحمد بن محمد بن حنبل، رحمه الله، في مسنده: حدثنا يحيى بن سعيد، عن شعبة، حدثني خبيب بن عبد الرحمن، عن حفص بن عاصم، عن أبي سعيد بن المُعَلَّى، رضي الله عنه، قال: كنت أصلي فدعاني رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلم أجبه حتى صلَّيت وأتيته، فقال: ” ما منعك أن تأتيني؟ ” . قال: قلت: يا رسول الله، إني كنت أصلي. قال: ” ألم يقل الله: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } [الأنفال: 24] ثم قال: ” لأعلمنك أعظم سورة في القرآن قبل أن تخرج من المسجد ” . قال: فأخذ بيدي، فلما أراد أن يخرج من المسجد قلت: يا رسول الله إنك قلت: ” لأعلمنك أعظم سورة في القرآن ” . قال: ” نعم، الحمد لله رب العالمين هي: السبع المثاني والقرآن العظيم الذي أوتيته ” .
Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullahuta’ala mengatakan di dalam Musnadnya: Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami -sebuah riwayat- dari Syu’bah. Dia berkata: Khubaib bin Abdurrahman menuturkan kepadaku dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu’anhu, dia berkata: Dahulu saat aku sedang mengerjakan sholat lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku. Aku tidak memenuhi panggilan itu sampai sholat selesai kulakukan. Abu Sa’id berkata: Kemudian aku mendatangi beliau (Nabi), maka beliau bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk datang menemuiku?”. Abu Sa’id berkata: Kujawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang sholat.” Maka beliau mengatakan, “Bukankah Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman penuhilah panggilan Allah dan Rasul ketika menyeru kalian menuju sesuatu yang memberikan kehidupan bagi kalian.’.” Kemudian beliau bersabda, “Sungguh aku akan ajarkan kepadamu sebuah surat paling agung di dalam al-Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid ini.” Abu Sa’id berkata: Kemudian beliau menggandeng tanganku -seraya berjalan-, lalu ketika beliau hampir keluar dari masjid kukatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi anda mengatakan: Sungguh akan kuajarkan kepadamu sebuah surat yang paling agung di dalam al-Qur’an.” Maka beliau menjawab, “Benar, itulah surat Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (surat al-Fatihah), itulah as-Sab’u al-Matsani dan al-Qur’an al-’Azhim yang dianugerahkan kepadaku.” (HR. Ahmad [17884] Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan sanad hadits ini shahih sesuai dengan kriteria/syarat Imam Bukhari [Musnad Ahmad, 4/211 cet. Mu'assasah Qurthubah. Asy-Syamilah], pent) (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/18] cet. Dar al-Fikr)
Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah ketika menjelaskan kandungan hadits ini berkata:
وهذا يدل على عظم سورة الفاتحة، وأنها أعظم سورة في كتاب الله، ولهذا شرعت قراءتها في الصلاة، بل قراءتها في الصلاة لازمة في كل ركعة من الركعات، وهي ركن من أركان الصلاة، وتثنى في الصلوات وتعاد وتكرر
“Hadits ini menunjukkan betapa agungnya surat al-Fatihah, dan menunjukkan bahwa ia merupakan surat paling agung di dalam Kitabullah. Oleh sebab itulah surat ini disyari’atkan untuk dibaca di dalam sholat, bahkan hukum membacanya di dalam sholat adalah wajib di setiap raka’at, dan ia merupakan salah satu rukun sholat. Surat ini senantiasa dibaca berulang-ulang di dalam sholat…” (Syarh Sunan Abu Dawud [8/145] software Maktabah as-Syamilah)
Imam al-’Aini rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan kandungan hadits di atas:
قوله أعظم سورة أي في الثواب على قراءتها وذلك لما يجمع هذه السورة من الثناء والدعاء والسؤال
“Perkataan beliau ‘Surat yang paling agung’ maknanya: yaitu paling besar pahala bacaannya, dikarenakan di dalam surat ini telah terkandung bebagai hal yang utama seperti pujian, do’a, dan permintaan.” (’Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari [27/254] software Maktabah as-Syamilah)
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
قال بن التين معناه أن ثوابها أعظم من غيرها
“Ibnu at-Tin mengatakan: Makna ungkapan itu -surat paling agung- adalah pahalanya paling besar dibandingkan pahala -membaca- surat yang lainnya.” (Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [8/158] software Maktabah as-Syamilah)
Faedah:
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan berbagai pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits yang mengisahkan dialog Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu’anhu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Di antara pelajaran yang beliau sampaikan adalah sbb:
1. Bolehnya bagi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyeru dan memanggil orang lain yang sedang mengerjakan sholat sunnah. Hal itu merupakan kekhususan bagi beliau ketika beliau masih hidup. Demikian pula diperbolehkan bagi seorang ibu untuk memanggil anaknya ketika ia sedang sholat sunnah. Hal ini memiliki landasan penguat dari hadits tentang seorang rahib yang dipanggil oleh ibunya namun dia tidak memenuhinya. Kemudian ibu tersebut mendoakan jelek bagi anaknya dan Allah pun mengabulkan doanya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Adapun bagi selain rasul dan ibu maka tidak boleh baginya memanggil siapa saja yang sedang mengerjakan sholat dan tidak wajib bagi orang yang sholat itu untuk memenuhi panggilannya ketika dia sedang sholat kecuali apabila dalam rangka menyelamatkan jiwa orang dari ancaman bahaya yang jelas-jelas akan terjadi atau dalam keadaan darurat
2. Wajibnya memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan ayat di atas
3. Besarnya semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran kepada para sahabatnya dan dorongan beliau kepada mereka agar menanti-nantikan apa yang hendak beliau sampaikan
4. Besarnya semangat seorang sahabat untuk menimba ilmu dan keberaniannya untuk mengingatkan Nabi atas apa yang telah beliau janjikan
5. Nabi merespon baik atas peringatan yang diberikan oleh sahabatnya dan kesetiaan beliau dalam menepati janjinya (lihat Tafsir wa Bayan li A’zhami Suratin fil Qur’an hal. 4 software Maktabah asy-Syamilah)
Demikian pelajaran singkat yang bisa kami sampaikan di sini, semoga Allah masih mempertemukan kita dalam kesempatan lain berikutnya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Yogyakarta, Pagi hari Sabtu 7 Syawwal 1430 H
Hamba yang fakir kepada ampunan Rabbnya
Abu Mushlih Ari Wahyudi
Alamat blog: http://abu0mushlih.wordpress.com
Selengkapnya...
Kamis, 01 Oktober 2009
Mutiara Tafsir Surat al-Fatihah [bagian 1]
Senin, 07 September 2009
Tafsir Ayat Kursi
Oleh : Ustadz Anas Burhanuddin, Lc
(Mahasiswa Master di Universitas Islam Madinah)
Keutamaan Ayat Kursi
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung nan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah Ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah. Pada kesempatan kali ini akan kita pelajari bersama ayat yang paling agung dalam al-Qur’an, yaitu ayat kursi; surat al-Baqarah ayat 255.
Ubay bin Ka’b t berkata: Rasulullah e berkata: “Wahai Abul Mundzir (gelar kun-yah dari Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?” Aku menjawab:”Allah dan RasulNya lebih tahu.” Beliau berkata: “Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?” Akupun menjawab:
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Maka beliau memukul dadaku dan berkata: “Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir”. (HR. Muslim no. 810)
Dalam kisah Abu Hurairah t dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata : “Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi, dengan demikian akan selalu ada panjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah e, beliau berkata: “Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)
Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka’b t, disebutkan bahwa si jin mengatakan:
مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ
“Barang siapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi, dan siapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore”. (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)
Dalam hadits yang lain, Nabi e bersabda:
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ
“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian”. (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)
Disunatkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, juga sebelum tidur.
Tafsir Ayat Kursi
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah , tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).”
Allah adalah nama yang paling agung milik Allah Ta’ala. Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan inti sari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.
Al-Hayyu dan al-Qayyum adalah dua diantara al-Asma’ al-Husna yang Allah miliki. Al-Hayyu artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. Al-Qayyum berarti bahwa semua membutuhkanNya dan semua tidak bisa berdiri tanpa Dia. Karenanya, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asama’ al-Husna yang lain.
Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Hayyul Qayyum adalah nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua nama ini ada di ayat kursi.
لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ
“Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur”.
Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan tidak lalai akan hamba-hambaNya.
Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur. Barangkali ada yang mengatakan, menafikan kantuk saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja tidak, apalagi tidur. Tapi Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi orang tidur tanpa mengantuk dahulu, dan orang bisa menahan kantuk tapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak berarti otomatis menafikan tidur.
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ
“KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi.”
Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah kekuasaanNya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali dengan kehendak Allah.
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinNya.”
Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah adalah do’a. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi e berarti mengharapkan agar Nabi e mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang tidak khusus utnuk Nabi e, seperti syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di surga.
Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak, saudara atau sahabatnya di akhirat. Tapi syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:
1. Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.
2. Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.
Karenanya, tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan mentaatiNya; menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua laranganNya.
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”
Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi, bahkan hal yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu Allah sangat sempurna.
وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ
“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dangan apa yang dikehendakiNya.”
Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan. Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”
Ibnu Abbas e menafsirkan kursi dengan berkata:
الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ
“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah”. (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)
Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi e, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Ayat ini menunjukkan besarnya kursi Allah dan besarnya Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi e bersabda:
مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْع مَعَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْض فَلاَةٍ
“Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang.” (HR. Ibnu Hibban no.361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)
وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا
“Dan Allah tidak terberati pemeliharaan keduanya.”
Seorang ibu, tentu merasakan betapa melelahkan mengurus rumah sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun tidak demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi beserta isinya sangat ringan bagiNya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzatNya berada di ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah hadits, Nabi e bertanya kepada seorang budak perempuan: “Di mana Allah?” Ia menjawab: “Di langit.” Nabi e bertanya: “Siapa saya?” Ia menjawab:”Engkau adalah Rasulullah.” Maka Nabi e berkata kepada majikannya: “Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!” (HR. Muslim no. 537)
Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.
Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.
Kesimpulan:
1. Ayat kursi adalah ayat yang paling agung, dan semua ayat al-Qur’an agung.
2. Disunatkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.
3. Penegasan kalimat tauhid.
4. Arti al-Hayyu dan al-Qayyum yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.
5. Semua bentuk kekurangan harus dinafikan dari Allah.
6. Arti syafaat dan syarat memperolehnya.
7. Ilmu Allah sangat sempurna.
8. Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.
9. Arti dan keagungan kursi Allah.
10. Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.
11. Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.
12. Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaanNya. Wallahu a’lam.
Referensi:
1. Al-Quran dan Terjemahnya.
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Fathul Qadir, asy-Syaukani.
4. Taysirul Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa’di.
5. Shahih al-Bukhari
6. Shahih Muslim
7. Al-Mu’jam al-Kabir, ath-Thabrani.
8. al-Mustadrak, al-Hakim.
9. Shahih Ibnu Hibban.
10. Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani.
11. Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani.
12. Fathul Majid, Abdurrahman bin Hasan.
13. Fiqhul Asma’il Husna, Abdurrazzaq al-Badr.
14. Al-Qamus al-Muhith, al-Fairuzabadi.
Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi berkata: “… tiada kehidupan untuk hati, tidak ada kesenangan dan ketenanga nbaginya, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)Nya, dan seiring dengan itu mencintaiNya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya tanpa yang lain…….”(Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah)
Artikel : www.wahonot.wordpress.com
Selengkapnya...
Minggu, 16 Agustus 2009
Ikutilah al-Kitab dan as-Sunnah...!!!

Hadits-hadits pilihan dari Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah Sahih Bukhari disertai beberapa keterangan tambahan
Bukhari meriwayatkan dari Thariq bin Syihab radhiyallahu’anhu, ada seorang lelaki Yahudi berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya turun kepada kami (Yahudi) ayat ini, ‘Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian’ niscaya hari itu akan kami jadikan sebagai hari raya.” Maka Umar mengatakan, “Sesungguhnya aku tahu kapan hari turunnya ayat ini. Ia turun pada hari Arafah di hari Jumat.” (HR. Bukhari [7268]).
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi mengatakan, “Maka perbuatan mengada-ada atau menciptakan bid’ah pada hakikatnya merupakan sanggahan kepada syari’at dan tindakan lancang yang sangat buruk, orang yang melakukannya -secara tidak langsung- telah menyerukan bahwa syari’at ini belum cukup dan belum sempurna [!] sehingga butuh untuk menciptakan hal yang baru dan bid’ah di dalamnya!!” (Ilmu Ushul Bida’, hal. 19).
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?”. Beliau menjaw ab,”Barangsiapa yang menaatiku niscaya masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dia lah orang yang enggan.” (HR. Bukhari [7280]).
Ibnu Hajar mengatakan, “Apabila yang tidak taat itu adalah orang kafir maka sama sekali dia tidak akan masuk surga. Dan apabila dia adalah muslim maka maksudnya adalah dia akan terhalang masuk surga bersama dengan orang-orang yang memasukinya sejak awal kecuali orang yang dikehendaki Allah ta’ala.” (Fath Al-Bari, 13/291).
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah ajaran yang aku tinggalkan kepada kalian ini apa adanya, sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian itu hanyalah disebabkan karena terlalu banyak mempertanyakan dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Apabila aku melarang sesuatu kepada kalian maka jauhilah, dan apabila aku memerintahkan sesuatu maka laksanakanlah sekuat kemampuan kalian.” (HR. Bukhari [7288]).
Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari emas dan orang-orang pun ikut memakai cincin dari emas, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu aku memakai cincin dari emas.” Kemudian beliau membuangnya dan berkata, “Sekarang aku tidak akan memakainya lagi untuk selama-lamanya.” Maka orang-orang (para sahabat) pun membuang cincin-cincin mereka (HR. Bukhari [7298]).
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan sesuatu yang beliau sendiri memberikan keringanan atasnya namun sebagian orang malah tidak mau melakukannya. Maka kejadian itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memuji Allah lalu berkata, “Apa gerangan yang menimpa diri orang-orang yang menjauhkan dirinya dari sesuatu yang aku sendiri melakukannya. Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya dibandingkan mereka semua.” (HR. Bukhari [7301]).
Bukhari meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang selalu menang hingga datang kepada mereka ketetapan Allah sedangkan mereka dalam keadaan menang.” (HR. Bukhari [7311]).
Ibnu Hajar menukil bahwa Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Imam Ahmad, beliau mengatakan, “Apabila mereka itu bukan ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu.” (Fath Al-Bari, 13/336).
Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan sampai-sampai apabila mereka memasuki lubang dhabb sekalipun maka kalian pun akan memasukinya.” Kami bertanya, “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi” (HR. Bukhari [7320]).
Bukhari meriwayatkan dari Amr bin Al-’Ash radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hakim berijtihad kemudian benar maka dia akan mendapatkan dua pahala, dan apabila dia berijtihad lalu salah maka dia akan mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari [7352]).
Ibnu Hajar menerangkan bahwa yang dimaksud dua pahala adalah pahala ijtihad dan pahala benar, sedangkan yang dimaksud satu pahala adalah pahala ijtihad saja (lihat Fath Al-Bari, 13/365). Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizani mengatakan berdalil dengan hadits ini, “Dengan hal itu dapat dimengerti bahwa kebenaran di sisi Allah itu hanyalah satu tidak berbilang, dan menunjukkan bahwa orang yang benar di antara kedua ahli ijtihad [yang berselisih itu] hanya satu, tidak setiap mujtahid itu benar.” (Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 488).
Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu’anhu, bahwa dahulu ada seorang perempuan dari Anshar yang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membicarakan sesuatu, maka Nabi pun memerintahkan sesuatu kepadanya. Lalu perempuan itu berkata, “Bagaimana pendapat anda wahai Rasulullah, jika saya tidak bertemu dengan anda?”. Maka beliau bersabda, “Jika kamu tidak bertemu denganku maka datanglah kepada Abu Bakar.” (HR. Bukhari [7360]).
Ibnu Hajar menerangkan bahwa keterangan sebagian ulama yang menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pendapat yang benar, akan tetapi hal itu berupa isyarat saja bukan secara tegas (lihat Fath Al-Bari, 13/380).
Sumber: http://abu0mushlih.wordpress.com
Selengkapnya...
Rabu, 29 Juli 2009
Hadits Fadhilah Yasin bag. 2
Hadits kesebelas:
إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَرَأَ طه وَيَسٍ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اَدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ فَلَـمَّاسَمِعَتِ الْمَلاَئِكَةُ الْقُرْاَنَ قَالُوْا: طُوْبَى لِأُمَّةٍ يَنْزِلُ هَذَا عَلَيْهِمَ وَطُوْبَى لِأَلْسُنٍ تَتَكَلَّمُ بِهَذَاوَطُوْبَى لِأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membaca surat Thaaha dan Yaasiin 2000 tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam. Tatkala para Malaikat mendengar al-Qur’an (yakni kedua surat itu) seraya berkata: ‘Berbahagialah bagi umat yang turun al-Qur’an atas mereka, alangkah baiknya lidah-lidah yang berkata dengan ini (membaca) dan baiklah rongga-rongga yang membawanya (yang menghafal kedua surat itu).”
Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Darimi (II/456), Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid (no. 328), Ibnu Hibban dalam kitab adh-Dhu’afa (I/108), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 607), al-Baihaqi dalam al-Asma’ wash Shifat (I/365) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath (no. 4873).
Hadits ini adalah hadits Munkar.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibrahim bin Muhajir bin Mismar, ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Dzakwan dari Maula al-Huraqah.” Kata Ibnu Khuzaimah: “Namanya ‘Abdur Rahman bin Ya’qub bin al-‘Ala’ bin ‘Abdur Rahman dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallaam…”
Matan hadits ini maudhu’. Kata Ibnu Hibban: “Matan hadits ini palsu dan sanadnya sangat lemah, karena ada dua orang rawi yang lemah:
1.Ibrahim bin Muhajir bin Mismar
Kata Imam al-Bukhari: “Ia adalah munkarul hadits.”
Kata Imam an-Nasa’i: “Ia perawi yang lemah.”
Kata Ibnu Hibban: “Ia sangat munkar haditsnya.”
Kata Ibnu Hajar: “Ia perawi lemah.”
[Mizaanul I’tidal (I/67), Taqriibut Tahdziib (I/67 no. 255)]
2.‘Umar bin Hafsh bin Dzakwan
Kata Imam Ahmad: “Kami tinggalkan haditsnya dan kami bakar.”
Kata Imam ‘Ali Ibnul Madini: “Ia seorang rawi yang tidak tsiqah.”
Kata Imam an-Nasa’i: “Ia rawi matruk.”
[Mizaanul I’tidal (III/189). Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 1248]
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata: “Hadits ini gharib dan munkar, karena Ibrahim bin Muhajir dan Syaikhnya (yaitu, ‘Umar bin Hafsh) diperbincangkan (oleh para ulama hadits).” [Lihat Tafsiir Ibnu Katsir (III/156, cetakan Darus Salaam, th. 1413H]
Hadits kedua belas:
مَنْ سَمِعَ سُوْرَةَيَسٍ عَدَ لَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ دِيْنَارًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَمَنْ قَرَأَهَاعَدَلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ حَجَّةً وَمَنْ كَتَبَهَا وَشَرِبَهَا أُدْخِلَتْ جَوْفَهُ أَلْفَ يَقِيْنٍ وَأَلْفَ نُوْرٍ وَأَلْفَ بَرَكَةٍ وَأَلْفَ رَحْمَةٍ وَأَلْفَ رِزْقٍ وَنُزِعَتْ مِنْهُ كُلُّ غِلٍّ وَدَاءٍ.
“Barang siapa mendengar bacaan surat Yaasiin, ia akan diberi ganjaran 20 Dinar di jalan Allah. Barang siapa yang membacanya diberi ganjaran kepadanya laksana ganjaran 20 kali melakukan ibadah Haji. Barang siapa yang menuliskannya kemudian ia meminum airnya maka akan dimasukkan ke dalam rongga dadanya seribu keyakinan, seribu cahaya, seribu berkah, seribu rahmat, seribu rizqi, dan dicabut (dihilangkan) segala macam kesulitan dan penyakit.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari ‘Ali, lalu dia berkata: “Hadits ini Maudhu’.”
Takhrij singkat:
Ibnu ‘Adiy berkata: “Dalam sanadnya ada rawi yang tertuduh memalsukan hadits yaitu Ahmad bin Harun. [Mizaanul I’tidal I/162]
Dalam sanad hadits ini terdapat Isma’il bin Yahya al-Baghdadi. Shalih bin Muhammad Jazarah berkata: “Ia (Isma’il) sering memalsukan hadits.” Imam ad-Daruquthni berkata: “Ia seorang tukang dusta dan matruk.” Imam al-Azdiy berkata: “Ia salah seorang tukang dusta dan tidak halal meriwayatkan dari padanya.”
Rujukan:
Al-Maudhu’at oleh Ibnul Jauzi (I/246-247), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaaditsil Maudhu’ah no. 942 dan Mizaanul I’tidal (I/253-254)
Hadits ketiga belas:
يَسٍ لِمَا قُرِأَتْ لَهُ.
“Surat Yaasiin itu bisa member manfaat sesuai tujuan yang dibacakan untuknya.”
Hadits ini Tidak Ada Asalnya (لا أصل له)
Imam as-Sakhawi berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya.”
Rujukan:
Al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ oleh ‘Ali al-Qari’ (no. 414 hal. 215-216), ta’liq Abdul Fattah Abu Ghuddah, al-Maqaashidul Hasanah (no. 1342)
Hadits keempat belas:
يَسٍ قَلْبُ الْقُرْاَنِ لاَيَقْرَأُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُاللهَ وَالدَّارَ الْاَخِرَةَ إِلاَّغُفِرَ لَهُ وَاقْرَؤُوْهَاعَلَى مَوْتَاكُمْ.
“Surat Yaasiin itu hatinya al-Qur’an, tidaklah seseorang membacanya karena mengharapkan keridhaan Allah dan negeri akhirat (Surga-Nya), melainkan akan diampuni dosanya. Oleh karena itu, bacakanlah surat Yaasiin itu untuk orang-orang yang akan mati di antara kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V/26) dan an-Nasa’i dalam kitab Amalil Yaum wal Lailah (no. 1083).
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Mu’tamir, dari ayahnya, dari seseorang, dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata: “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallaam bersabda…”
Dalam sanad hadits ini terdapat tiga orang rawi yang majhul (tidak diketahui namanya dan keadaannya). Jadi hadits ini Dha’if dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.
Rujukan:
Fat-hur Rabbani (VII/63)
Hadits kelima belas:
اِقْرَأُواْ يَسٍ عَلَى مَوْتَاكُمْ.
“Bacakanlah surat Yaasiin kepada orang yang akan mati di antara kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (V/26-27), Abu Dawud (no. 3121), Ibnu Abi Syaibah, an-Nasa’i dalam Amalil Yaum wal Lailah (no. 1082), Ibnu Majah (no. 1448), al-Hakim (I/565), al-Baihaqi (III/383) dan ath-Thayalisiy (no. 973).
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Sulaiman at-Taimi, dari Abu ‘Utsman (bukan an-Nahdi), dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallaam...”
Hadits ini lemah karena ada tiga sebab yang menjadikan hadits ini lemah:
1.Abu ‘Utsman seorang rawi majhul.
2.Ayahnya juga majhul.
3.Hadits ini mudthorib (goncang) sanadnya.
Penjelasan para imam ahli hadits tentang hadits ini:
1.Tentang Abu ‘Utsman
Kata Imam adz-Dzahabi: “Abu ‘Utsman rawi yang tidak dikenal (majhul).”
Kata ‘Ali Ibnul Madini: “Tidak ada yang meriwayatkan dari Abu ‘Utsman melainkan Sulaiman at-Taimi.” Maksud Ibnul Madini ialah: bahwa Abu ‘Utsman ini majhul. [Mizaanul I’tidal (IV/550), Tahdziibut Tahdziib (XII/182) dan Irwaa-ul Ghalil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabil (III/151 no. 688)]
Kata Ibnul Mundzir: “Abu ‘Utsman dan ayahnya bukan orang yang masyhur (tidak dikenal).” [Lihat ‘Aunul Ma’bud (VIII/390)]
Kata Imam Ibnul Qaththan: “Hadits ini ada ‘illat-nya, serta hadits ini mudthorib (goncang) dan Abu ‘Utsman majhul.”
Kata Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dan ad-Daruquthni: “Hadits dha’if isnadnya dan majhul, dan tidak ada satu pun hadits yang shahih dalam bab ini (yakni dalam bab Membacakan Yaasiin untuk Orang yang Akan Mati).” [at-Talkhisul Habir ma’asy Syarhil Muhadzdzab (V/110), Fat-hur Rabbani (VII/63), Irwaa-ul Ghaliil (III/151)]
Kata Imam an-Nawawi: “Isnad hadits ini dha’if, di dalamnya ada dua orang yang majhul (Abu ‘Utsman dan ayahnya).” [al-Adzkaar hal. 122][1]
2.Tentang ayahnya Abu ‘Utsman
Ia ini rawi yang mubham (seorang rawi yang tidak diketahui namanya). Ia dikatakan majhul oleh para ulama Ahli Hadits, karena selain tidak diketahui namanya tetapi juga tidak diketahui biografinya.
3.Hadits ini Mudhthorib
Hal ini karena di sebagian riwayat yang disebutkan: Dari Abu ‘Utsman, dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar. Sedangkan riwayat lain menyebutkan dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil bin Yasar tanpa menyebut dari ayahnya.
Dengan demikian, hadits ini martabatnya adalah Dha’if dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.[2]
Hadits keenam belas:
Diriwayatkan dari Shafwan (ia berkata):
حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْ قُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يَسٍ قَالَ فَقَرَأَهَا صَالَحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ: فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا، قَالَ صَفْوَانُ: وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَا بْنِ مَعْبَدٍ.
“Telah berkata kepadaku beberapa Syaikh bahwasanya mereka hadir ketika Ghudhaif bin Harits mengalami naza’ (sakaratul maut), seraya berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang dapat membacakan surat Yaasiin?’ Lalu Shalih bin Syuraih as-Sakuni membacakannya. Maka, ketika sanpai pada ayat ke-40, ia (Ghudhaif) wafat. Shafwan berkata: Para Syaikh berkata:’Bila dibacakan surat Yaasiin di sisi orang yang akan meninggal, niscaya diringankan bagi si mayyit (keluarnya ruh) dengan sebab bacaan itu.’ Kata Shafwan: ‘Kemudian ‘Isa bin Mu’tamir membacakan surat Yaasiin di sisi Ibnu Ma’bad.’ ”
Riwayat ini Maqthu’[3]. Apalagi riwayat ini juga lemah, karena beberapa Syaikh yang disebutkan itu majhul, tidak diketahui nama dan keadaan diri mereka masing-masing.
Jadi riwayat ini lemah (dha'if) dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah.
Rujukan:
Irwaa-ul Ghaliil (III/151-152)
Hadits ketujuh belas:
مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ فَيُقْرَأُ عِنْدَهُ (يَسٍ) إِلاَّ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ.
“Tidak ada seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan surat Yaasiin, di sisinya (yaitu ketika ia sedang naza’) melainkan Allah akan mudahkan (kematian) atasnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan (I/188).
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Marwan bin Salim Aljazary, dari Shafwan bin ‘Amr, dari Syuraih, dari Abu Darda secara marfu’.
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang sering memalsukan hadits, yaitu Marwan bin Salim Aljazary.
Imam Ahmad dan an-Nasa’i berkata: “Ia tidak bisa dipercaya.”
Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim berkata: “Ia munkarul hadits.”
Abu Arubah al-Harrani berkata: “Ia sering memalsukan hadits.”
Rujukan:
Mizaanul I’tidal (IV/90-91), Irwaa-ul Ghaliil (III/152)
Demikian takhrij singkat dari beberapa hadits yang menyebutkan tentang fadhaail surat Yaasiin. Dan berikut ini adalah penjelasan al-Hafidz al-‘Allamah asy-Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu Ta’ala:
Riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan (fadhaail) surat-surat dan ganjaran bagi orang yang membaca surat ini akan mendapat pahala begini dan begitu dari awal al-Qur’an sampai akhir, sebagaimana yang disebutkan oleh Tsa’labi dan Wahidi pada awal tiap-tiap surat dan Zamakhsyari pada akhir surat, semuanya ini kata ‘Abdullah bin al-Mubarak: ‘Semua hadits yang mengatakan: ‘Barang siapa yang membaca surat ini akan diberi ganjaran begini dan begitu... semua hadits tentang itu adalah maudhu’. Mereka (para pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallaam. Sesungguhnya orang-orang yang membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka telah memalsukannya.’”
Mereka berkata: ‘Tujuan kami membuat hadits-hadits palsu agar manusia sibuk dengan (membaca al-Qur’an) dan menjauhkan (kitab-kitab) selain al-Qur’an.” Mereka (para pemalsu hadits) adalah orang-orang jahil dan mereka adalah orang-orang yang ummi akan ilmu hadits.[4]
Wallaahu Ta’ala a’lam bish showab.
Al-Faqir ila Rabbil ‘Arsyil ‘Adzhim
Ibnu Isma’il bin Ibrahim al-Muhajirin
Maraji':
Yasinan, al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahulloh, cet. ke-7, penerbit Media Tarbiyah Bogor.
___________
Catatan kaki:
[1] Hadits ini dilemahkan oleh asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly dalam Shahih al-Adzkar wa Dha’iifuhu I/388-389.
[2] Untuk keterangan lebih jelas tentang kelemahan hadits masyhur ini, silakan merujuk pada kitab al-Qaulul Mubiin fii Dha’fi Haditsai at-Talqin qa Iqra’u ‘ala Mautakum Yaasiin, oleh asy-Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Atsari al-Halabiy.
[3] Yakni riwayat ini hanya sampai kepada tabi’in, tidak sampai kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam.
[4] Al-Manarul Munif fis Shahih wadh Dha’if hal. 113-115, tahqiq: ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Sumber: Ibnu Isma'il bin Ibrahim
Selengkapnya...
Hadits Fadhilah Yasin bag. 1

Al-Qur’an adalah kitab yang paling wajib dibaca dan ditadabburi oleh kaum muslimin, sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat al-‘Alaq ayat 1:
إِقْرَا
“Bacalah.”
Al-Qur’an memiliki 30 juz dan terdiri dari 114 surat, mulai dari surat al-Fatihah hingga surat an-Naas. Dan kesemuanya itu memiliki keutamaan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Namun, kita melihat banyak orang yang lebih senang membaca surat-surat tertentu dari al-Qur’an karena (niatnya) berbagai fadhilah yang sebetulnya perlu diteliti keshahihannya. Salah satu surat yang sangat masyhur di kalangan masyarakat kita ini adalah surat Yasin. Mereka berdalih dengan berbagai riwayat yang menyebutkan tentang fadhilah surat Yasin ini.
Berikut ini akan kita lihat takhrij singkat dari beberapa riwayat yang menyebutkan tentang fadhilah-fadhilah surat Yasin.
Hadits pertama:
مَنْ قََََرَأَيَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ.
“Barang siapa yang membaca surat Yaasiin dalam satu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.”
Riwayat Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (I/247)
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnul Jauzi berkata: “Hadits ini dari semua thuruq-nya adalah bathil, tidak ada asalnya.” Imam ad-Daruquthni berkata: “Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits.”
Rujukan:
Al-Maudhu’at oleh Ibnul Jauzi (I/246-247), Mizaanul I’tidal (III/549), Lisaanul Mizaan (V/168), al-Fawaa-idul Majmu’ah fii Ahaaditsil Maudhu’ah (hal. 286 no. 944)
Hadits kedua:
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهَ اللهِ غُفِرَ لَهُ.
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada malam hari karena mengharap keridhaan Allah, niscaya Allah ampuni dosanya.”
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath dan al-Mu’jamush Shaaghir.
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, tetapi di dalam sanadnya ada Aghlab bin Tamiim. Imam Bukhari berkata: “Ia adalah munkarul hadits.” Ibnu Ma’in berkata: “Ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat).”
Rujukan:
Mizaanul I’tidal (I/273-274) dan Lisaanul Mizaan (I/464-465)
Hadits ketiga:
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ.
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada malam hari karena mengharap keridhaan Allah, maka ia akan diampuni dosanya pada malam itu.”
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat:
Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalan Walid bin Syuja’, ayahku (Syuja’) telah menceritakan kepadaku, Ziyad bin Khaitsamah telah menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Juhadah dari al-Hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [Sunan ad-Darimi (II/457)]
Hadits ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan al-Khatib, dari jalan al-hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini Munqathi’, karena dalam semua sanadnya terdapat al-Hasan bin Yasar al-Bashriy, ia tidak mendengar riwayat ini dari Abu Hurairah.
Imam adz-Dzahabi berkata: “Al-Hasan tidak mendengar dari Abu Hurairah, maka semua hadits-hadits yang ia riwayatkan dari Abu Hurairah termasuk daru jumlah hadits-hadits munqathi’.
Rujukan:
Mizaanul I’tidal (I/527 no. 1968), al-Fawaa-idul Majmu’ah (hal. 269 no. 945) tahqiq oleh Syaikh ‘Abdurrahman al-Mu’allimy.
Hadits keempat:
مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يَسٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ ثُمَّ مَاتَ، مَاتَ شَهِيْدًا.
“Barang siapa terus-menerus membaca surat Yaasiin pada setiap malam kemudian dia mati, maka ia mati syahid.”
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir, dari Shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, tetapi di dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa al-Azdiy, ia seorang tukang dusta dan ia dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits.
Rujukan:
Tuhfatul Dzakirin (hal. 340), Mizaanul I’tidal (II/159-160), Lisaanul Mizaan (III/44-45)
Hadits kelima:
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ صَدْرِ النَّهَارِ قُضِيَتْ حَوَا ئِجُهُ.
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada permulaan siang (pagi hari), maka terpenuhi semua hajatnya.”
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalan Walid bin Syuja’, telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhadah, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam bersabda…”
Hadits ini mursal, karena ‘Atha’ bin Abi Rabah tidak bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam, ia lahir kurang lebih tahun 24 Hijriyah dan wafat tahun 114 Hijriyah.
Rujukan:
Sunan ad-Darimi (II/457), Misykaatul Mashaabih (takhrij no. 2177), Mizaanul I’tidal (III/70) dan Taqribut Tahdzib (II/22)
Hadits keenam:
مَنْ قَرَأَيَسٍ مَرَّةً فَـكَـأَنَّمَـا قَرَأَ الْقُرْاَنَ مَرَّتَيْنِ.
“Barang siapa membaca surat Yaasiin satu kali seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an dua kali.”
Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Rujukan:
Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5789) dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 4636) oleh al-Hafidz asy-Syaikh al-Albani.
Hadits ketujuh:
مَنْ قَرَأَ يَسٍ مَرَّةً فَـكَـأَ نَّمَا قَرَأَالْقُرَاَنَ عَشْرَ مَرَّابٍ.
“Barang siapa membaca surat Yaasiin satu kali seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an sepuluh kali.”
Riwayat al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Rujukan:
Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5798) oleh al-Hafidz asy-Syaikh al-Albani.
Hadits kedelapan:
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْاَنِ يَسٍ، وَمَنْ قَرَأَيَسٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْاَنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ.
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) al-Qur’an itu ialah surat Yaasiin. Barang siapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca al-Qur’an sepuluh kali.”
Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2887) dan ad-Darimi (II/456), dari jalan Humaid bin ‘Abdurrahman, dari al-Hasan bin Shalih, dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan (yang benar adalah Muqatil bin Sulaiman) dari Qatadah dari Anas secara marfu’.
Hadits ini hadits Maudhu'.
Takhrij singkat:
Di dalam isnad hadits ini terdapat dua rawi yang dha’if, yaitu Harun Abu Muhammad dan Muqatil bin Hayyan.
Harun Abu Muhammad adalah seorang yang majhul (tidak dikenal riwayat hidupnya). Imam adz-Dzahabi berkata: “Aku menuduhnya majhul.” [Mizaanul I’tidal IV/288).
Sedangkan Muqatil bin Hayyan adalah seorang yang dha’if. Ibnu Ma’in berkata: “Dha’if.” Dan Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak peduli kepada Muqatil bin Hayyan dan Muqatil bin Sulaiman.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/171-172)
Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitabnya al-‘Ilal (II/55-56): “Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits ini. Jawabnya: ‘Muqatil yang ada dalam sanad hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman, aku mendapati hadits ini di awal kitab yang disusun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits bathil, tidak ada asalnya.’” [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah hal. 312-313 no. 169]
Imam adz-Dzahabi juga membenarkan bahwa Muqatil dalam hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman. [Lihat Mizaanul I’tidal IV/172]
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “Apabila sudah jelas bahwa Muqatil yang dimaksud adalah Muqatil bin Sulaiman, sebagaimana yang sudah dinyatakan oleh Imam Abu Hatim dan diakui oleh Imam adz-Dzahabi, maka hadits ini Maudhu’. [Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah hal. 313-314 no. 169]
Kata Imam Waqi’: “Muqatil bin Sulaiman adalah kadzdzab/pendusta.”
Kata Imam an-Nasa’i: “Muqatil bin Sulaiman sering dusta.” [Mizaanul I’tidal IV/173]
Hadits kesembilan:
مَنْ قَرَأَيَسٍ حِيْنَ يُصْبِحُ يُسِرَيَوْ مُهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَمَنْ قَرَأَهَا فِيْ صَدْرِ لَيْلَةٍ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتِةِ حَتَّى يُصْبِحَ.
“Barang siapa baca surat Yaasiin di pagi hari, maka akan dimudahkan urusan hari itu sampai sore. Dan barang siapa membacanya di awal malam (sore hari), maka akan diberi kemudahan urusan malam itu sampai pagi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi (II/457)
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat:
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin Zararah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Rasyid Abu Muhammad al-Himani, dari Syahr bin Hausyab, ia berkata: “Ibnu ‘Abbas telah menceritakan…”
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang bernama Syahr bin Hausyab. Ibnu Hajar: “Ia banyak memursal-kan hadits dan banyak keliru.” [Taqriibut Tahdziib I/423 no. 2841, Mizaanul I’tidal II/283]
Al-Mujaddid asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu Ta’ala berkata: “Syahr bin Hausyab lemah dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah, karena banyak salahnya.” [Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid I hal. 426]
Hadits ini juga merupakan hadits Mauquf.
Hadits kesepuluh:
مَنْ قَرَأَ يَسٍ كُلَّ لَيْلَةٍ غُفِرَلَهُ.
“Barang siapa membaca surat Yaasiin setiap malam, niscaya diampuni (dosa)nya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Rujukan:
Dha’if Jami’ush Shaghir hadits no. 5788 dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 4636.
Bersambung...
Sumber: Ibnu Isma'il bin Ibrahim
Selengkapnya...













