Oleh Al Ustadz Aris Munandar
Berikut ini adalah praktek nyata yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang ahli sunnah terhadap musuhnya. Inilah contoh akhlak Ibnu Taimiyyah sebagaimana diceritakan sendiri oleh muridnya yang demikian berbakti, Ibnul Qoyyim.
وما رأيت أحدا قط أجمع لهذه الخصال من شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat-sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Moga Allah menyucikan arwahnya.”
Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya”.
وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم
Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendoakan kejelekan untuk seorang pun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya beliau sering mendoakan kebaikan untuk mereka.
وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه
Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).
Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati . Bahkan beliau mengatakan, “Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.”
Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.
Perkataan Ibnul Qoyyim di atas saya jumpai dalam Madarij as Salikin 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits Kairo, cetakan pertama 1316H.
Allahu Akbar, demikian agung akhlak seorang sunni salafi.
Marilah kita merenung seberapa jauh kita bisa meneladani akhlak beliau.
Ya Allah, maafkanlah segala kekurangan kami.
Sumber: http://ustadzaris.com/akhlaq-seorang-ahlus-sunnah-terhadap-musuhnya (judul asli: Akhlak Seorang Ahlus Sunnah Terhadap Musuhnya)
Selengkapnya...
Selasa, 13 Oktober 2009
AKHLAK SEORANG SALAFI TERHADAP MUSUHNYA...
Senin, 28 September 2009
Apakah Salafi Termasuk Aliran Sesat?
Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah -beliau adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di dalam kitabnya ‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa Shifat’ [halaman 53-54] bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam tentang makna istilah salafush shalih. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan salafush shalih adalah para sahabat radhiyallahu’anhum saja. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud salafush shalih adalah sahabat dan tabi’in. Dan ada pula yang mengatakan bahwa salafush shalih meliupti sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
Beliau juga menyatakan [halaman 54] bahwa pendapat yang benar lagi populer ialah pendapat jumhur ulama Ahlis Sunnah wal Jama’ah yaitu yang menyatakan bahwa salafush shalih itu mencakup tiga generasi yang diutamakan dan telah dipersaksikan kebaikannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Sebaik-baik manusia adalah di jamanku, kemudian sesudah mereka, kemudian sesudahnya lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sehingga istilah salafush shalih itu mencakup sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
Syaikh at-Tamimi mengatakan, “Dan setiap orang yang meniti jalan mereka dan berjalan di atas metode/manhaj mereka maka dia disebut salafi, sebagai penisbatan kepada mereka.” (Mu’taqad, hal. 54).
Beliau juga memaparkan [halaman 54] bahwa salafiyah adalah manhaj yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta generasi yang diutamakan sesudah beliau. Nabi telah memberitakan bahwa manhaj salaf ini akan tetap ada hingga datangnya hari kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan senantiasa ada segolongan manusia di antara umatku yang selalu menang di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sampai datang ketetapan Allah sementara mereka tetap dalam keadaan menang.” (HR. Muslim)
Kemudian, Syaikh at-Tamimi juga menegaskan [halaman 55] bahwa perkara yang dibenarkan apabila seorang menyandarkan diri kepada manhaj salaf ini selama dia konsisten menetapi syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya. Maka siapa pun yang menjaga keselamatan aqidah dan amalnya sehingga sesuai dengan pemahaman tiga generasi yang utama tersebut, maka dia adalah orang yang bermanhaj salaf.
Di tempat yang lain [halaman 63] beliau mengatakan, “Terkadang para ulama menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai pengganti istilah salaf.”
Dari pemaparan ringkas di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa istilah salaf atau salafi sebenarnya adalah istilah yang sudah sangat terkenal dalam pembicaraan para ulama. Mereka itu tidak lain adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka sungguh sebuah penipuan yang amat jelas apabila ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafi adalah istilah yang diada-adakan, tidak ada sumbernya dalam al-Kitab maupun as-Sunnah, apalagi sampai mengatakan bahwa istilah itu tidak perlu dihiraukan.
Dengarkanlah ucapan seorang tokoh pergerakan yang patut untuk kita cermati, “Salafiyah bukanlah istilah teknik untuk suatu jamaah, melainkan bentuk pemahaman terhadap Islam dalam menghadapi berbagai faham lain dari berbagai kelompok yang menyimpang. Pemahaman ini ada sejak awal sejarah Islam. Pada dasarnya seluruh du’at harus menjalani manhaj salaf ridhwanullahi ‘alaihim, bergerak dengannya baik secara pemahaman, amalan, maupun aqidah. Salafiyah bukan sebuah jama’ah dari jama’ah-jama’ah, dan bukan merupakan satu hizb dari berbagai hizb yang ada.” (Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, penerjemah Hawari Aulia, di bawah judul ‘Tuduhan dan Jawabannya’). Alangkah benar apa yang diucapkannya, maka marilah kita ikuti para ulama salaf, tidak hanya dalam hal aqidah namun juga dalam hal dakwah dan siyasah, sadarlah wahai saudaraku…
Termasuk kekeliruan pula apabila ada orang yang mengatakan bahwa salaf sekarang sudah tidak ada karena mereka sudah meninggal dengan maksud menjauhkan umat dari manhaj salaf. Memang, salafush shalih -dalam artian tiga generasi terbaik- sudah berlalu, namun sebagaimana sudah dijelaskan di muka oleh Syaikh at-Tamimi bahwa manhaj mereka masih tetap hidup.
Aduhai, alangkah banyak gaya-gaya hizbiyah yang ditampilkan oleh manusia pada masa sekarang ini demi menjauhkan umat dari para ulama dan pemahaman mereka! Maka berhati-hatilah wahai saudaraku dari tipu daya mereka… Janganlah tertipu oleh silat lidah mereka yang lincah, tutur kata yang manis namun di dalamnya ternyata berbisa… Ikutilah para ulama Sunnah dan para penimba ilmu yang mengikuti jalan mereka! Semoga Allah menjadikan kita salafi yang sejati. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.
Sumber: http://abu0mushlih.wordpress.com
Selengkapnya...
Menjadi Salafi, Mengapa Tidak?
Syaikh Salim Al-Hilali menukil keterangan Ibnu Manzhur seorang pakar bahasa Arab mengenai makna kata ’salaf’. Ibnu Manzhur mengatakan di dalam kamus Lisan Al-’Arab (9/159), “Salaf juga bermakna setiap orang yang mendahuluimu, yaitu nenek moyangmu dan orang-orang terdahulu yang masih memiliki hubungan kerabat denganmu; yang mereka itu memiliki umur dan keutamaan yang lebih di atasmu. Oleh sebab itu generasi pertama (umat ini) dari kalangan tabi’in disebut sebagai kaum salafush-shalih/pendahulu yang baik.” (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 30).
Kata salaf itu sendiri sudah disebutkan oleh Nabi dalam haditsnya kepada Fathimah, ”Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim [2450/98]). Artinya sebaik-baik pendahulu. Kata salaf juga sering digunakan oleh ahli hadits di dalam kitab haditsnya. Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata ‘Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani.” Al Hafizh Ibnu Hajar menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.” (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 31-32).
Sedangkan menurut istilah para ulama, maka yang dimaksud dengan salaf adalah sebuah karakter yang melekat secara umum pada diri para sahabat radhiyallahu’anhum, dan orang-orang sesudah mereka pun bisa disebut demikian jika mereka mengikuti dan meneladani jejak para sahabat (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 30).
Apabila disebut generasi salaf maka yang dimaksud adalah tiga kurun terbaik umat ini; sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Itulah tiga generasi terbaik yang telah dipersaksikan kebaikan dan keutamaannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di jamanku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), dan kemudian yang setelah mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim, hadits mutawatir). Ini merupakan pemaknaan salaf jika ditinjau dari sisi masa (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 33).
Namun, istilah salaf yang sering dipakai oleh para ulama tidak terbatas pada pemaknaan masa (marhalah zamaniyah) semacam itu. Sebab dalam pengertian mereka istilah salaf merupakan label yang layak untuk dilekatkan bagi siapa saja yang senantiasa berupaya untuk menjaga keselamatan aqidah dan manhajnya yaitu dengan konsisten mengikuti cara beragama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, di manapun dan kapanpun mereka berada (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 33).
Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6)
Allah ta’ala berfirman mengisyaratkan kelurusan manhaj salaf yang mulia ini dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang yang lebih dahulu (masuk Islam) dan pertama-tama (berjasa dalam dakwah) yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhai mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Allah mempersiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar.” (QS. At-Taubah : 100).
Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Bahwa Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan mereka pun ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan Allah ‘azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang mengikuti perjalanan para Shahabat dari tabi’in, tabi’ut tabi’in dan seterusnya dari orang alim sampai orang awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. Mafhum-nya, mereka yang tidak mengikuti perjalanan para Shahabat, apalagi sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.” (Al Masaa’il jilid 3, hal. 74)
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa hakikat dakwah salafiyah tidak lain ialah mengajak umat untuk senantiasa mengikuti cara beragama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan baik. Sehingga dakwah salafiyah bukanlah dakwah hizbiyah yang menyeru kepada kelompok tertentu dan tokoh-tokoh tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum ajma’in. Maka salafiyah adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan para pengikut setia mereka, tidak lebih dari itu.
Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri
Pembesar sebuah gerakan dakwah di negeri ini menerangkan kepada kita dengan jujur bahwa, “Salafi adalah suatu manhaj yang berupaya kembali pada rujukan asli, yaitu: al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang telah difahami dan diamalkan oleh generasi salaf yang shalih.” (lihat Ittijah Fiqih Dewan Syari’ah Partai Keadilan Sejahtera yang ditanda tangani DR. Surahman Hidayat, MA tertanggal 28 Juli 2005 –semoga Allah memberikan hidayahnya kepada beliau-).
Namun, keterangan beliau ini sangat berbeda -kalau tidak mau dikatakan bertentangan- dengan pernyataan seorang pengasuh website al-ikhwan.net yang dengan beraninya mengatakan, ”istilah Salaf ataupun Salafi, maka itu tidak aku temukan dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, maka tidak perlu dihiraukan sedikitpun.” (Dirasah fi Al Aqidah Al Islamiyah). Kalau dalam masalah fiqih mengaku-ngaku salafi, tapi mengapa dalam masalah aqidah tidak mau menjadi salafi? Ada apa ini, wahai saudaraku! Aduhai alangkah tepat ungkapan ini, “Engkau melihat [seolah-olah] mereka bersatu akan tetapi [ternyata] hati mereka tercerai berai.” Allahu yahdiik!
Mengapa harus salafiyah?
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah pernah ditanya : Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam ?
Maka beliau rahimahullah menjawab,
“Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.” Begitu pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam rangka memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti kaum salaf…Dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).” …”
Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya,
“Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga ia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan : Saya adalah pengikut salafush shalih dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.” Dan tidak diragukan lagi bahwasanya penolakan seperti ini –meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para salafush shalih yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung di dalam hadits mutawatir di dalam Shahihain dan selainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di jamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” Oleh sebab itu maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari penisbatan diri kepada salafush shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorangpun di antara para ulama yang akan menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan…” (Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani, hal. 13-19, lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah)
Ini bukan bid’ah akhi…
Istilah salafiyah artinya penyandaran diri kepada kaum salaf. Hal itu merupakan perkara yang terpuji, bukan tergolong bid’ah atau menciptakan mazhab yang baru. Syaikh Salim Al-Hilali hafizhahullah menukil keterangan Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawanya (4/149) yang menuturkan, “Tidaklah tercela sama sekali orang yang menampakkan mazhab salaf dan menyandarkan diri kepadanya serta merasa mulia dengan pengakuannya itu. Bahkan pernyataannya itu wajib untuk diterima berdasarkan kesepakatan (ulama). Sebab mazhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.” (Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 33).
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili hafizahullah mengatakan, “Bukan termasuk perbuatan bid’ah barang sedikitpun apabila Ahlus Sunnah menamai dirinya Salafi. Sebab pada hakekatnya istilah Salaf sama persis artinya dengan isitlah Ahlus Sunnah wal Jama’ah…” (Mauqif Ahlis Sunnah, 1/63. Dinukil melalui Tabshir Al Khalaf bi syar’iyatil Intisab ila As Salaf). Maka seorang salafi adalah setiap orang yang mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman salafush salih serta menjauhi pemikiran yang menyimpang dan bid’ah-bid’ah dan tetap bersatu dengan jama’ah kaum muslimin bersama pemimpin mereka. Itulah hakekat salafi, meskipun orangnya tidak menamakan dirinya dengan istilah ini (lihat kalimat penutup risalah Tabshir Al Khalaf bi syar’iyatil Intisab ila As Salaf karya Dr. Milfi Ash-Sha’idi).
Sumber: http://abu0mushlih.wordpress.com
Selengkapnya...
Mengenal Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala
Mengenal Ketinggian Allah
Allah yang menciptakan kita mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, do’a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana Tuhannya akan selalu sesat dan tidak akan mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar.
Sifat atas atau tinggi yang dimiliki Allah atas makhluk-Nya tidak berbeda dengan sifat-sifat Allah yang lainnya sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur`an dan hadits yang shahih, seperti “Mendengar”, “Melihat”, “Berbicara”, “Turun” dan lain-lain.
‘Aqidah para ‘ulama salaf yang shalih dan golongan yang selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempunyai keyakinan yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya tanpa ta`wiil (menggeser makna yang asal ke makna yang lain), ta’thiil (meniadakan seluruh atau sebagian sifat-sifat Allah), takyiif (menanyakan hakekat sifat-sifat Allah) dan tasybiih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya). Hal ini berdasarkan firman Allah: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuuraa:11)
Sifat-sifat Allah ini antara lain sifat atas atau tinggi tadi mengikuti Dzat Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut juga wajib sebagaimana juga iman kepada Dzat Allah.
Al-Imam Malik ketika ditanya tentang makna istiwa` dalam firman Allah: “Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5)
Beliau menjawab: “Istiwa` itu sudah diketahui maknanya, yaitu “tinggi”. Sedangkan bagaimananya, tidak diketahui. Beriman dengannya adalah wajib dan menanyakannya adalah bid’ah.”
Perhatikanlah jawaban Al-Imam Malik tersebut yang menetapkan bahwa iman kepada istiwa` itu wajib diketahui oleh setiap muslim. Tetapi bagaimana tingginya Allah itu hanya Allah saja yang mengetahui. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur`an dan Hadits -antara lain sifat ketinggian Allah yang mutlak dan Allah di atas langit- maka orang itu berarti telah mengingkari ayat Al-Qur`an dan Hadits yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan, keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapa pun.
Ada sekelompok ‘ulama yang datang belakangan yang sudah terpengaruh oleh filsafat yang merusak ‘aqidah Islam, berusaha untuk mena`wilkan ayat-ayat Al-Qur`an yang berhubungan dengan sifat Allah, sehingga mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari Dzat-Nya. Mereka bertentangan dengan metode ‘ulama salaf yang lebih selamat, lebih tahu dan lebih kuat argumentasinya. Alangkah indahnya pendapat yang mengatakan:
segala kebaikan itu terdapat dalam mengikuti jejak ‘ulama salaf
dan segala keburukan itu terdapat dalam bid’ahnya orang-orang khalaf (yang menyelisihi salaf).
Kesimpulan Mengenai Sifat-sifat Allah
Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Al-Qur`an dan Hadits adalah wajib. Tidak boleh membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga kita hanya mau beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa mendengar dan melihatnya Allah tidak sama dengan mendengar dan melihatnya makhluk, maka ia juga harus percaya bahwa Allah itu tinggi di atas langit dengan cara dan sifat yang sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat tingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam Kitab-Nya dan sabda-sabda Rasulullah. Fithrah dan cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.
Allah Berada di atas ‘Arsy
Al-Qur`an, hadits shahih dan fithrah yang bersih serta cara berfikir yang sehat adalah dalil-dalil yang qath’i yang mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy.
Dalil-dalil tersebut adalah:
1. Firman Allah Ta’ala:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Allah Yang Maha Pengasih itu beristiwa` di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5) Keterangan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy terdapat dalam tujuh surat, yaitu: Al-A’raaf:54, Yuunus:3, Ar-Ra’d:2, Thaahaa:5, Al-Furqaan:59, As-Sajdah:4 dan Al-Hadiid:4.
Para tabi’in menafsirkan istiwa` dengan naik dan tinggi, sebagaimana diterangkan dalam hadits Al-Bukhariy, yang merupakan bantahan terhadap orang yang mena`wilkan istiwa` dengan istaula (menguasai). (Lihat Syarh Al-’Aqiidah Al-Waasithiyyah, Asy-Syaikh Al-Fauzan hal.73-75 cet. Maktabah Al-Ma’aarif)
2. “Apakah kalian merasa aman terhadap “Yang di langit” bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian?” (Al-Mulk:16)
Menurut Ibnu ‘Abbas yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah seperti disebutkan dalam kitab Tafsir Ibnul Jauziy.
3. “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang (ada) di atas mereka.” (An-Nahl:50)
4. Firman Allah tentang Nabi ‘Isa: “Tetapi (yang sebenarnya), Allah mengangkatnya kepada-Nya.” (An-Nisaa:158)
Maksudnya Allah menaikkan Nabi ‘Isa ke langit.
5. “Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi.” (Al-An’aam:3)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut: “Para ahli tafsir sepakat bahwa kita tidak akan mengucapkan seperti ucapannya Jahmiyyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka terebut.”
Adapun firman Allah: “Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (Al-Hadiid:4), maka yang dimaksud adalah Allah itu selalu bersama kita, dalam artian mendengar dan melihat kita, seperti diterangkan dalam tafsir Ibnu Katsir dan Jalalain.
6. Rasulullah mi’raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (Muttafaqun ‘alaih)
7. Rasulullah bersabda: “Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku ini dipercaya oleh Allah yang ada di langit?” (Muttafaqun ‘alaih)
8. Rasulullah bersabda: “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka Yang di langit (yaitu Allah) akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidziy)
9. Abu Bakr Ash-Shiddiq berkata: “Barangsiapa menyembah Allah maka Allah berada di atas langit, Ia hidup dan tidak mati.” (Riwayat Ad-Darimiy dalam Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah)
10. ‘Abdullah Ibnul Mubarak pernah ditanya: “Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?” Maka beliau menjawab: “Tuhan kita di atas langit, di atas ‘Arsy, berbeda dengan makhluk-Nya.” Maksudnya Dzat Allah berada di atas ‘Arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluk-Nya dan keadaannya di atas ‘Arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.
11. Al-Imam Abu Hanifah menulis kitab kecil berjudul “Sesungguhnya Allah itu di atas ‘Arsy.” Beliau menerangkan hal itu seperti dalam kitabnya “Al-’Ilm wal Muta’allim.”
12. Seseorang yang tengah shalat berucap di dalam sujudnya: “Subhaana Rabbiyal A’laa” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).
13. Seseorang ketika berdo’a juga mengangkat kedua tangannya dan menadahkannya ke langit.
14. Anak kecil ketika ditanya: “Di mana Allah?”, niscaya mereka akan segera menjawab berdasarkan fithrah mereka yang masih bersih bahwa Allah berada di atas langit.
15. Hewan buruan seperti kijang dan lainnya ketika hendak dibidik/dibunuh oleh sang pemburu, menengadahkan kepalanya ke langit meminta kepada Rabb-nya yang ada di atas langit agar menyelamatkannya. Hal ini menunjukkan bahwa hewan tersebut tahu bahwa Rabb-nya di atas langit. Demikian juga hewan-hewan yang lainnya mengetahui bahwa Rabb mereka berada di atas langit. Kalau ada orang yang masih belum mengetahui di mana Rabb-nya maka dia lebih hina dan lebih rendah daripada hewan.
16. Akal yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas langit. Seandainya Allah berada di setiap tempat, niscaya Rasulullah pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para shahabatnya. Kalau Allah berada di segala tempat berarti Allah juga di tempat-tempat yang najis dan kotor. Maha Suci Allah dari anggapan itu.
Kisah Seorang Wanita Penggembala
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah di atas langit adalah kisah seorang budak wanita penggembala. Kisahnya adalah sebagai berikut:
Dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy berkata: “Dulu aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambingku di daerah Uhud dan Jawwaaniyyah.
Suatu hari aku menengoknya, tiba-tiba ada seekor serigala membawa pergi salah satu kambingnya. Sedangkan aku adalah seorang laki-laki dari Bani Adam. Aku bisa marah sebagaimana orang lain pun bisa marah. Maka aku pun memukulnya sekali.
Kemudian aku mendatangi Rasulullah, maka beliau menganggap besar perbuatan yang telah kulakukan.
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku merdekakan saja dia?” Beliau menjawab: “Bawa dia kepadaku!”
Maka setelah budak wanita tersebut dibawa ke hadapan beliau, beliau bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu pun menjawab: “Engkau adalah Utusan Allah.”
Setelah mendengar jawaban tersebut, beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman.” (HR. Muslim no.537)
Dari hadits dan kisah tersebut, kita bisa mengambil beberapa faidah, di antaranya:
1. Adalah kebiasaan para shahabat ketika menghadapi suatu permasalahan meskipun kecil, selalu merujuk kepada Rasulullah agar mereka mengetahui bagaimana hukum Allah di dalam permasalahan tersebut.
2. Wajibnya berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa`:65)
3. Pengingkaran Rasulullah terhadap shahabat tersebut yang memukul budaknya dan beliau menganggapnya sebagai perkara besar.
4. Memerdekakan budak hanya boleh dilakukan terhadap budak yang beriman, bukan budak yang kafir. Karena Rasulullah menguji budak tadi dan ketika beliau mengetahui bahwa budak itu beriman, beliau memerintahkan untuk memerdekakannya. Jadi seandainya dia kafir, beliau tidak akan memerintahkan hal tersebut.
5. Kewajiban bertanya tentang tauhid, di antaranya tentang tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Mengetahui hal ini adalah wajib.
6. Disyari’atkannya memberikan pertanyaan: “Di mana Allah?”. Hal ini adalah sunnah karena Rasulullah juga menanyakannya. Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan: “Tidak boleh bertanya di mana Allah!”
7. Disyari’atkannya (bahkan wajib untuk) menjawab bahwa Allah ada di langit (yaitu di atas langit). Karena Nabi membenarkan jawaban budak tadi dan juga karena sesuainya jawaban tersebut dengan Al-Qur`an yang mengatakan: “Apakah kalian merasa aman terhadap “Yang di langit” bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian?” (Al-Mulk:16)
Yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas. Sedangkan makna fis samaa` (di langit) adalah ‘alas samaa` (di atas langit).
8. Benarnya keimanan dapat terwujud dengan adanya persaksian terhadap Muhammad dengan risalah beliau.
9. Keyakinan bahwa Allah ada di atas langit adalah bukti yang menunjukkan benarnya keimanan dan keyakinan ini harus ada pada setiap orang yang beriman.
10. Hadits ini merupakan bantahan terhadap kesalahan orang yang mengatakan bahwa Allah ada di setiap tempat dengan Dzat-Nya, sedangkan yang benar adalah Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, bukan dengan Dzat-Nya.
11. Permintaan Rasulullah agar budak itu dibawa ke hadapan beliau sehingga beliau dapat mengujinya menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib, yaitu keimanan budak tersebut. Hal ini sebagai bantahan terhadap golongan shufi yang mengatakan bahwa Rasulullah mengetahui perkara ghaib. Wallaahu A’lam.
Diringkas dari kitab Taujiihaat Islaamiyyah li Ishlaahil Fard wal Mujtama’ dan Kaifa Nurabbii Aulaadanaa karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu dengan beberapa tambahan.
Pernyataan Para Imam tentang Istiwa`
Berkata Al-Imam Abu Hanifah: “Siapa yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku itu di mana, di langit ataukah di bumi.”, maka orang tersebut kafir. Demikian pula orang yang berkata: “Tuhanku itu di atas ‘Arsy, tetapi saya tidak tahu ‘Arsy itu di langit ataukah di bumi.” (Al-Fiqhul Absath hal.46; Lihat juga Majmuu’ul Fataawaa 5/48; Syarh Al-’Aqiidah Ath-Thahaawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz hal.301;)
Abu Nu’aim menuturkan dari Ja’far bin ‘Abdillah, dia berkata: “Kami berada di rumah Malik bin Anas, kemudian ada orang datang dan bertanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, Allah Yang Maha Pengasih istiwa` (bersemayam) di atas ‘Arsy, bagaimana caranya Allah beristiwa`?”
Mendengar pertanyaan itu, Al-Imam Malik marah. Beliau tidak pernah marah seperti itu. Kemudian beliau melihat ke tanah sambil memegang kayu di tangannya, lalu beliau mengangkat kepalanya dan melempar kayu tersebut, kemudian berkata: “Istiwa` itu sudah diketahui maknanya sedangkan bagaimana caranya Allah beristiwa` tidaklah dapat dicerna oleh akal. Beriman dengannya adalah wajib sedangkan menanyakannya adalah bid’ah. Dan saya kira kamulah pelaku bid’ah tersebut.” Kemudian Al-Imam Malik menyuruh orang itu agar dikeluarkan dari rumah beliau.” (Al-Hilyah 6/325-326; ‘Aqiidatus Salaf Ash-Haabul Hadiits hal.17-18; At-Tamhiid 7/151; Fathul Baarii 13/406-407)
Wallaahu A’lam.
Dinukil dari kitab I’tiqaadul A`immah Al-Arba’ah, Dr. Muhammad Al-Khumais
(Dikutip dari Bulletin Al Wala’ wal Bara’ Edisi ke-35 Tahun ke-2 / 23 Juli 2004 M / 05 Jumadits Tsani 1425 H. URL http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=35&th=2)
Sumber: http://www.salafy.or.id/
Selengkapnya...
AJAKLAH MANUSIA KEPADA TAUHID
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ( النحل : 36 )
“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyeru): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut. Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah, dan di antara mereka ada yang telah tetap kesesatan ada pada diri mereka, maka berjalanlah kalian di muka bumi ini, dan lihatlah bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan” (An Nahl : 36)
Sungguh, agama Islam adalah agama yang mulia, yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang mereka melakukan keburukan. Tidak ada suatu kebaikan pun yang bisa mendekatkan seseorang kepada surga, melainkan Islam telah menjelaskan dan mengajak kepadanya. Sebaliknya, tidak ada sedikit pun amalan keburukan, yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam lembah kesengsaraan, melainkan agama yang mulia ini telah melarangnya.
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah ta’ala melalui lisan para Rasul-Nya ‘alaihimusholatu wa salam. Seluruh Rasul yang diutus oleh Allah ta’ala, diawali dari Nuh ‘alaihissalam sampai dengan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruhnya membawa tujuan yang sama, yaitu menyeru umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata (baca : tauhid). Sebagaimana Allah ta’ala firmankan dalam ayat di atas, yaitu Surat An Nahl ayat 36.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ … ( النحل : 36 )
“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut… ”
(An Nahl : 36)
Syaikh As Sa’diy rahimahullah dalam buku tafsir beliau, berkata tentang ayat ini, ”Allah subhanahu wa ta’ala mengkhabarkan dalam ayat tersebut, bahwa syari’at agama Allah (yaitu agama Islam) berlaku untuk seluruh umat manusia. Allah ta’ala mengutus para rasul kepada tiap-tiap mereka, baik kepada umat yang terdahulu maupun umat yang belakangan. Dan para rasul tersebut memiliki tujuan yang sama dalam dakwah dan seruan mereka kepada umat manusia, yaitu ajakan untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.” (Taisir Karimir Rahman, hal 440)
Pada ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ( الأنبياء : 25)
“Dan tidaklah kami utus seorang rasul kepada umat sebelum engkau (Muhammad), kecuali Kami wahyukan kepadanya, (agar mereka menyeru) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku (Allah), maka sembahkan Aku (Allah)
(Q.S. Al-Anbiya’ :25)
Inilah misi para rasul ‘alaihimusholatu wa salam dalam dakwah dan seruan mereka kepada umatnya. Seluruhnya mengajak kepada tauhid dan melarang kemusyrikan. Tidaklah Allah mengutus para rasul melainkan dengan misi ini. Tauhid adalah intisari agama Islam. Seluruh ajaran Islam berporos pada sumber yang agung ini. Sampai-sampai apabila kita merenungkan isi Al Quran, maka akan kita jumpai seluruhnya mengajarkan tentang tauhid.
Ibnu Taimiyah, yang kemudian diikuti oleh murid beliau, Ibnul Qayyim rahimahumallahu, mengatakan, “Seluruh kandungan dalam Al Quran, adalah tentang ajakan kepada tauhid, tentang hak-hak tauhid dan ganjaran bagi orang yang benar-benar bertauhid. Begitu juga berisi tentang larangan kemusyrikan, nasib para ahli syirik, dan tentang balasan bagi orang yang berbuat kemusyrikan” (Madarijus salikin, 3 /450, dikutip dari Manhajul Anbiya fi Da’wati Ila Allahi, Syaikh Rabi’ Al Madkholi).
Hakikat pengutusan Nabi Nuh ‘alaihissalam, Rasul Pertama yang Diutus oleh Allah Ta’ala
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ…( النساء : 163 )
“Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada engkau (Muhammad), sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan para nabi setelah Nuh…”
(Q.S. An-Nisa : 163)
Dalam hadits yang shohih, tentang hadits syafaat,
…اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ . فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا…
“…Wahai manusia, pergilah kepada Nuh. Maka manusia pun pergi menuju Nuh (untuk meminta syafaat) mereka berkata, Wahai Nuh engkau adalah Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah telah menyebutmu sebagai hamba yang bersyukur…”
(HR. Bukhariy dalam kitab shohihnya)
Timbul pertanyaan, mengapa dalam ayat tersebut (An Nisa : 163) dan hadits di atas, Allah menyebutkan para nabi, dimulai dari Nabi Nuh ‘alaihissalam? Bukankah nabi pertama adalah nabi Adam ‘alahissalam?
Jawabannya adalah karena munculnya kemusyrikan pertama kali di permukaan bumi ini adalah pada zaman Nuh ‘alaihissalam. Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “terjadinya kemusyrikan pertama kali adalah pada kaum nabi Nuh ‘alaihissalam, yaitu ketika mereka bersifat ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang sholeh” (Ighotsatul Lahfan, 2/204)
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “antara Adam dan Nuh terdapat 10 generasi, dan seluruh generasi tersebut berada di atas agama Islam”. (diriwayatkan oleh Al Hakim,2/546). Artinya, antara generasi Adam dan Nuh belum muncul kemusyrikan, seluruhnya berada di atas tauhid.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir beliau untuk surat An Nahl : 36, “Adapun perintah untuk menyembah Allah semata dan perintah untuk menjauhi thaghut, maka Allah ta’ala tidaklah mengutus para rasul melainkan karena misi dan tujuan ini. (Yaitu dimulai) sejak munculnya kemusyrikan pertama kali di tengah-tengah Bani Adam, yaitu pada zaman Nuh ‘alaihissalam. Maka Nuh ‘alaihissalam adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi, hingga ditutup dengan risalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang seruan beliau ditujukan kepada seluruh manusia dan jin, baik di belahan bumi timur maupun barat” (lihat tafsir ibnu katsir, via software maktabah syamilah)
Dari penjelasan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa ketika pertama kali terjadi kemusyrikan di muka bumi ini, ketika itu pula Allah menurunkan rasul-Nya, yaitu Nuh ‘alaihissalam, agar memperingatkan manusia dari kemusyrikan dan mengajak untuk kembali kepada tauhid. Inilah misi dan tujuan utama para rasul utusan Allah.
Seluruh Rasul Menyeru kepada Tauhid
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam banyak ayat, baik ayat-ayat yang umum maupun ayat-ayat khusus, menceritakan kisah umat-umat terdahulu, bahwa Allah telah mengutus kepada mereka para rasul, guna mengajak dan menyeru kepada tauhid dan menjauhi kemusyrikan.
Di dalam ayat yang umum, Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ( الأنبياء : 25)
“Dan tidaklah kami utus seorang rasul kepada umat sebelum engkau (Muhammad), kecuali Kami wahyukan kepadanya, (agar mereka menyeru) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku (Allah), maka sembahkan Aku (Allah)
(Q.S. Al-anbiya’ :25)
Ayat tersebut semakna dengan surat An Nahl ayat 36 yang telah lewat. Pada ayat tersebut Allah Ta’ala tidak menyebutkan umat tertentu. Akan tetapi, terkadang Allah menyebutkan umat tertentu. Semisal Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
(المؤمنون : 23 )
“Dan sungguh kami telah megnutus Nuh kepada kaumnya, kemudian dia (Nuh) mengatakan, “wahai kaumku, sembahlah Allah semata, tidak ada sesembahan (yang layak) bagi kalian selain Dia, mengapa kalian tidak bertaqwa”
(Q.S. Al Mukminun : 23 )
Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bapak para nabi :
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( العنكبوت : 16 )
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Beribadahlah kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. (Yang demikian itu adalah ) lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui”.
(Al-‘Ankabut: 16)
Dan ayat-ayat lainnya yang menceritakan kisah pengutusan para rasul kepada kaumnya, untuk menyeru kepada tauhid dan larangan berbuat syirik, sebagaimana kisah tentang nabi Hud, nabi Sholeh, nabi Syu’aib, nabi ‘Isa, sampai kepada nabi kita yang mulia Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam. Demikianlah kenyataan dakwah para nabi di dalam sejarah mereka yang disebutkan dalam al-Qur’an maupun dalam hadits yang shahih. Inti dakwah mereka seluruhnya adalah tauhid.
Maka, Mulailah dengan Tauhid
Setelah kita mengetahui, bahwa tujuan dakwah para rasul Allah, termasuk rasul kita yang mulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, adalah terpusat pada realisasi tauhid dan melarang kemusyirikan, sudah menjadi keharusan kita, sebagai kaum muslimin, untuk memahami dan mengerti makna tauhid kemudian mendakwahkannya kepada manusia.
Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (يوسف : 108 )
“Katakanlah (wahai Muhammad), inilah jalanku, yang aku menyeru (manusia) kepada Allah, di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrikin.”
(Q.S. Yusuf : 108)
Syaikh as Sa’diy mengatakan, “makna هَذِهِ سَبِيلِي adalah jalan yang mengantarkan kepada ridho Allah dan negeri akhirat yang mulia. Pada jalan tersebut tercakup ilmu dan amal sholeh serta memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Taisir Karimir Rahman)
Inilah dakwah yang dituntut sekarang ini, di saat kebanyaakan manusia lalai akan hakikat tauhid, di saat manusia banyak yang protes dan berunjuk rasa ketika terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), akan tetapi mereka sebagian besar terdiam membisu ketika hak Allah di langgar. Tahukah anda apakah hak Allah itu?
عَنْ مُعَاذٍ – رضى الله عنه – قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ « يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ » . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا »
Dari shahabat Muadz bin Jabbal radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, Aku dibonceng oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?”, Kemudian aku (Mu’adz) menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaklah mereka menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan dengan suatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengadzab seorang hamba yang dia tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.”
Maka, sudah menjadi keharusan bagi kita semuanya, kaum muslimin saat ini, untuk menegakkan kewajiban kita yang paling besar, yang itu merupakan hak Allah yang terbesar. Allahu ta’ala a’laam.
Penyusun: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi
Muraja’ah: Ustadz Abu ‘Ukasyah Aris Munandar
Sumber: http://manhaj.or.id
Selengkapnya...
Jumat, 11 September 2009
PRINSIP DAN ADAB DALAM BERDAKWAH*
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Afifuddin As-Sidawi
* Salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah As-Salafiyyin adalah upaya amar ma’ruf nahi munkar yaitu memerintahkan kebaikan kepada segenap manusia dan melarang mereka dari segenap kemungkaran. Allah Tabaraka wa Ta’ala sebutkan hal ini dalam firman-Nya:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) [آل عمران/104]
“Hendaklah ada dikalangan kalian (wahai kaum muslimin) sejumlah orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhubahwa Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda:
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia rubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR. Muslim no. 49]
* Bagian terpenting dari upaya amar ma’ruf nahi munkar ini adalah dengan berdakwah menyeru manusia kepada agama Allah U. Hal ini juga sebagai ciri khas dari setiap nabi dan rasul yang Allah utus. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tugas utama para rasul sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kalian kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (An-Nahl: 36)
* Upaya dakwah ini haruslah dibangun di atas bashirah (’ilmu dan hujjah yang nyata). Hal ini sebagamana Allah tegaskan dalam kalam-Nya yang mulia:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108) [يوسف/108]
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata), Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)
Di antara ahli tafsir ada yang menafsirkan ayat ini, bahwa salah satu ciri pengikut rasul adalah : mereka berdakwah/menyeru kepada agama Allah di atas bashirah.
* Fadhilah (keutamaan) berdakwah di jalan Allah Tabaraka wa Ta’ala:
1. Orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah (du’at), mereka adalah orang yang paling bagus ucapan, keterangan, dan perbicaraannya jika disertai amal shalih kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33) [فصلت/33]
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat: 33)
2. Dakwah yang menyebabkan hidayah dan taufik untuk satu orang, lebih baik dari pada dunia dan seisinya.
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallamdalam haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Sahl bin Sa’d As-Sa‘idi radhiallahu ‘anhutentang kisah ‘Ali bin Abi Thalib yang diutus ke Khaibar. Pada akhir hadits tersebut Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda:
« … فَوَاللهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » .
“….demi Allah kalau seandainya Allah memberi hidayah kepada satu orang lewat perantara kamu, maka itu lebih baik bagimu dari pada engkau memiliki unta merah.” (Muttafaqun’alaihi) [1])
Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Para Da’i Ketika Berdakwah
1. Talaqqi Ilmi (menimba ilmu) sebelum dan ketika berdakwah
Sebagaimana hadits:
« طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ »
“Menuntut ilmu agama adalah wajib bagi setiap pribadi muslim.” [HR. Ibnu Majah] [2])
2. Ushul Talaqqi (hal-hal yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu ):
a) Niat yang ikhlas karena mengharap ridha Allah
« إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، … »
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan masing-masing orang akan diberi pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaqun ‘alaih] [3])
Menuntut ilmu dia niatkan untuk menolong agama Allah, menghilangkan kejahilan, dan untuk dia amalkan. Bukan hanya sekedar untuk dikatakan hafizh, da’i, ustadz, atau untuk berbangga-bangga di hadapan orang-orang bodoh, mendebat para ulama, atau untuk mendapatkan sedikit dari urusan dunia ini. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda :
« مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ »
“Barangsiapa yang menuntut ilmu karena hendak mendebat para ‘ulama, atau berbangga-bangga di hadapan orang-orang bodoh, atau ingin perhatian orang tertuju pada dirinya, maka Allah akan masukkan ia ke dalam an-nar (neraka).” [HR. At-Tirmidzi] [4])
b) Taqdimu al-ahammi fal aham (mendahulukan yang terpenting kemudian yang penting berikutnya) dalam menuntut ilmu. Artinya dalam menimba ilmu tidak bisa langsung loncat tangga. Perlu tahapan demi tahapan, karena ilmu agama ini -sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama- bagaikan lautan yang tidak bertepi. Sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menguasai semua bidang ilmu. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلاً (85) [الإسراء/85]
“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85)
* Tahapan-tahapan dalam menuntut ilmu yaitu:
1. Hifzhul Qur’an khususnya di usia muda.
2. Menggali ushulul fan (kaidah masing-masing bidang ilmu). Seperti kata para ulama;
مَنْ حُرِمَ الأُصُولُ حُرِمَ الوُصُولُ
“Barangsiapa yang meninggalkan ushulul ilmi (prinsip-prinsip dasar ilmu), maka dia akan diharamkan untuk sampai pada ilmu tersebut.”
Ushul ilmu ini contohnya; ushul fiqh, ushul hadits, dan sebagainya.
1. Berenang di lautan ilmu para ulama dengan pondasi ilmu yang sudah mapan.
2. Sabar dan sungguh-sungguh dalam belajar.
- Kata pepatah
مَنْ ثَبَتَ نَبَتَ
“Barangsiapa yang kokoh ilmunya, maka dia akan menghasilkan ilmu tersebut.”
Jangan sampai ilmu kita tadawwuq yaitu hanya sekedar mencicipi ilmu tersebut tanpa mau serius dan sabar. Misalnya, sering pindah-pindah pondok atau berpindah-pindah pelajaran sebelum dia faham benar. Orang yang seperti tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat selamanya.
1. Mengambil ilmu dari ahlinya.
- Orang yang kamu ambil ilmunya harus shahibus sunnah (orang yang berpegang pada as-sunnah), bukan dari ahlul hawa (pengikut hawa nafsu). Karena ilmu ini adalah agama sebagaimana kata Ibnu Sirin
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ!
“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu.” [5])
- Orang yang berdakwah tetapi tidak disertai ilmu yang mapan, maka dia akan lebih banyak merusak dakwah dari pada memperbaikinya. Oleh karenanya bagi seseorang yang merasa belum mampu untuk berdakwah karena ilmunya belum mapan dan belum pas, maka hendaknya dia mengetahui kadar dirinya. “Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya.”
3. Harus menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi segenap kaum muslimin dan mad’u-nya (orang yang dia dakwahi)
- Jangan sampai ucapan dia menyelisihi amalannya atau sebaliknya amalannya menyelisihi ucapannya. Allah subhanahu wata’ala mengancam orang-orang yang berkata tetapi dia tidak mengamalkan apa yang dia katakan itu, sebagaimana dalam kalam-Nya yang mulia:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ (3) [الصف/2، 3]
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 2-3]
- Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallamjuga telah mengabarkan bagaimana kesudahan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan tetapi ternyata dia sendiri tidak mau mengerjakan kebaikan tersebut. Sebagaimana dalam hadits yang shahih dari shahabat Abu Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhubahwa Rasulullah menceritakan bahwa nanti di An-Naar ada seseorang yang diadzab oleh Allah dalam keadaan terurai isi perutnya dan dia menarik-nariknya. Kemudian para penduduk An Naar mengerumuninya dan mengatakan; “Wahai fulan, bukankah engkau di dunia dahulu memerintahkan kepada kami perkara kebaikan dan melarang kami dari perkara kejelekan? Jawabnya; “saya dahulu memerintahkan kebaikan tetapi tidak saya kerjakan, dan saya dahulu melarang kalian dari perkara kejelekan, tetapi justru saya yang melaksanakan.”
- Dalam hadits yang mulia di atas terkandung tanbih (peringatan) bagi orang-orang yang melanggar apa yang dia sampaikan sendiri. Oleh karenanya seorang da’i harus menjadi uswatun hasanah bagi kaum muslimin dalam segala aspek.
4. Harus benar-benar mengajari kaum muslimin dakwah yang sesungguhnya yaitu berdakwah kepada Allah, bukan berdakwah kepada kelompoknya atau golongannya.
Sebagaimana dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ [يوسف/108]
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku berdakwah ke jalan Allah di atas bashirah (ilmu).” (Yusuf: 108)
Dan juga firman-Nya:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ [النحل/125]
“Berdakwahlah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”(An-Nahl: 125)
Perhatikan, Allah memerintahkan untuk berdakwah ke jalan-Nya. Menunjukkan bahwa dakwah ini bukanlah untuk kepentingan dunia, dakwah mengajak kepada kelompok atau golongan, dsb. Dakwah, adalah mengajak orang ke jalan Allah.
5. Harus mendidik umat agar menjadi ummatul ittiba’ (umat yang selalu mengikuti jalannya Rasulullah), bukan menjadi ummatut taqlid wa ta’assub (umat yang hanya membebek tanpa hujjah yang jelas)
Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]
“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”(Ali Imran:103)
Dan juga firman Allah Azza wa Jalla:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [الأنعام/153]
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (Al An’am: 153)
Sehingga seorang da’i haruslah mengajari umat untuk selalu berpegang kepada dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jika mendapati suatu masalah. Bukan mengajari mereka untuk taqlid dan ta’assub. Karena kita tidak boleh untuk mengikuti seseorang kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
6. Senantiasa menghubungkan dan mengenalkan umat dengan para ulama-nya.
Hal ini sebagai perwujudan dari perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) [النحل/43]
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (An Nahl: 43)
- Para ulama adalah para pembawa ilmu yang merupakan warisan dari para anbiya’, sehingga jika umat dipisahkan dari para ulama-nya, maka berarti mereka juga dipisahkan dari ilmu agamanya dan tentunya ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kehancuran umat.
- Kecintaan kepada para ulama adalah salah satu ciri khas dari Ahlus Sunnah, sedangkan kebencian dan permusuhan kepada para ulama adalah ciri dari para pengekor hawa nafsu.
- Tetapi kecintaan Ahlus Sunnah kepada para ulamanya dibangun di atas tarbiyah ittiba’, bukan dibangun di atas tarbiyah taqlid.
7. Ikhlaskan niat dalam berdakwah hanya untuk mencari ridha Allah semata. Bukan untuk mengharapkan pujian dan balasan dari orang lain.
- Allah Tabaraka wa Ta’ala ceritakan tentang dakwah para nabi dan rasul ketika mereka berkata kepada kaumnya:
وَيَا قَوْمِ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللهِ [هود/29]
“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.” (Hud: 29)
- Dakwah adalah ibadah dan amanah dari Allah, bukan untuk dijadikan alat mencari dunia.
8. Semua syarat-syarat di atas akan semakin indah jika dibungkus dengan sifat lyn wa rifq (lemah lembut) pada diri setiap da’i.
Allah I berfirman :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159) [آل عمران/159]
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. [Ali ‘Imran : 159]
Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda :
« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ »
Sesungguhnya Ar-Rifq (sikap lembut) tidaklah ia ada pada sesuatu kecuali ia akan membuatnya indah, dan tidaklah dicabut Ar-Rifq dari sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek. [HR. Muslim] [6])
[1] HR. Al-Bukhari no. 2942, 3009, 3710, 4210; Muslim no. 2406.
[2] HR. Ibnu Majah no. 224, dari shahabat Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 224.
[3] HR. Al-Bukhari no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6953; Muslim no. 1907. dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab.
[4] HR. At-Tirmidzi no. 2654, dari shahabat Ka’b bin Malik. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2654.
[5] Driwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah Shahih-nya.
[6] HR. Muslim no. 2594, dari shahabat ‘Aisyah h.
*) MUHADHARAH BERSAMA AL-USTADZ ABU ABDILLAH AFIFUDDIN AS-SIDAWI
(Pengasuh Ma’had Al-Bayyinah, Sidayu, Gresik)
(Dalam Kunjungannya ke Ma’had As Salafy Jember, 9 November 2008)
Sumber:http://www.assalafy.org/mahad/?p=277#more-277
http://salafiyunpad.wordpress.com
Selengkapnya...
Mengapa Kita Harus Berdakwah...?
[1] Dakwah merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf : 108).
Berdasarkan ayat yang mulia ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengambil sebuah pelajaran yang amat berharga, yaitu : Dakwah ila Allah (mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang beliau tuliskan di dalam Kitab Tauhid bab Ad-Du’a ila syahadati an la ilaha illallah (Ibthal At-Tandid, hal. 44).
[2] Dakwah merupakan karakter orang-orang yang muflih (beruntung)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-’Imran : 104).
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah-ku.” (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66).
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad, dinilai hasan Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’ hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66).
[3] Dakwah merupakan ciri umat yang terbaik
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia, kalian perintahkan yang ma’ruf dan kalian larang yang mungkar, dan kalian pun beriman kepada Allah…” (QS. Ali-’Imran : 110).
Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat yang benar, ayat ini umum mencakup segenap umat (Islam) di setiap jaman sesuai dengan kedudukan dan kondisi mereka masing-masing. Sedangkan kurun terbaik di antara mereka semua adalah masa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian generasi sesudahnya, lantas generasi yang berikutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 68).
[4] Dakwah merupakan sikap hidup orang yang beriman
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,…” (QS. At-Taubah : 71).
Inilah sikap hidup orang yang beriman, berseberangan dengan sikap hidup orang-orang munafiq yang justru memerintahkan yang mungkar dan melarang dari yang ma’ruf. Allah ta’ala menceritakan hal ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang munafiq lelaki dan perempuan, sebahagian mereka merupakan penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf…” (QS. At-Taubah : 67).
[5] Meninggalkan dakwah akan membawa petaka
Allah ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Isra’il (yang artinya), “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (QS. Al-Ma’idah : 78-79).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241).
Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syaikh As-Sa’di telah memaparkan akibat buruk ini, “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241).
[6] Orang yang berdakwah adalah yang akan mendapatkan pertolongan Allah
Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka itu adalah orang-orang yang apabila kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan milik Allah lah akhir dari segala urusan.” (QS. Al-Hajj : 40-41).
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540).
[7] Dakwah, bakti anak kepada sang bapak
Allah ta’ala mengisahkan nasihat indah dari seorang bapak teladan yaitu Luqman kepada anaknya. Luqman mengatakan (yang artinya), “Hai anakku, dirikanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman : 17).
Allah juga menceritakan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya. Allah berfirman (yang artinya), “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang jujur lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya; Wahai ayahku. Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bisa mencukupi dirimu sama sekali? Wahai ayahku. Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku. Janganlah menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu selalu durhaka kepada Dzat Yang Maha Penyayang.” (QS. Maryam : 41-44).
[8] Dakwah, alasan bagi hamba di hadapan Rabbnya
Allah berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’. Maka mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa’.” (QS. Al-A’raaf : 164).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran; yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntutan perintah atau larangan itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307).
Allah berfirman (yang artinya), “Para rasul yang kami utus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan itu, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengelak setelah diutusnya para rasul. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 165).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, “Wahai umat manusia, hari apakah ini?”. Mereka menjawab, “Hari yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Negeri apakah ini?”. Mereka menjawab, “Negeri yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Bulan apakah ini?”. Mereka menjawab, “Bulan yang disucikan.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, “Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?”… (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, bab Al-Khutbah ayyama Mina. Hadits no. 1739).
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, “Sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekedar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan.” (Fath Al-Bari, jilid 3 hal. 652).
[9] Dakwah tali pemersatu umat
Setelah menyebutkan kewajiban untuk berdakwah atas umat ini, Allah melarang mereka dari perpecahan, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah keterangan-keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang berhak menerima siksaan yang sangat besar.” (QS. Ali-’Imran : 105).
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalaulah bukan karena amar ma’ruf dan nahi mungkar niscaya umat manusia (kaum muslimin) akan berpecah belah menjadi bergolong-golongan, tercerai-berai tak karuan dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang mereka miliki…” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 102).
Sumber: http://abu0mushlih.wordpress.com
Selengkapnya...
Senin, 07 September 2009
10 Kewajiban Kita Terhadap Salafiyah
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar Dia menangkan diatas seluruh agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkah hanya Allah semata, tidak sekutu bagi-Nya, dengan mengakui dan mentauhidkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah senantiasa memberi sholawat dan salam yang senantiasa bertambah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau. Amma ba’du.
Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur`an,
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu ceritakan.” (Adh-Dhuha: 11)
Al-Allamah As-Sa’di berkata mengenai ayat ini, “Dan ini mencakup nikmat-nikmat diniyah (yang berkaitan dengan agama) dan juga nikmat-nikmat duniawiyah (yang berkaitan dengan dunia). Maka ceritakanlah, yakni, sanjunglah Allah atas nikmat itu dan sebutlah secara khusus nikmat itu jika ada maslahatnya. Jika tidak (ada maslahatnya) maka ceritakanlah nikmat-nikmat Allah itu secara umum. Karena sesungguhnya menceritakan nikmat-nikmat Allah akan mendorong (kita) untuk mensyukurinya dan akan menyebabkan kecintaan hati kepada (Allah) Yang memberikan nikmat trsebut, karena sesungguhnya hati itu tercipta dengan tabiat mencintai orang yang berbuat baik.” Selesai perkataan beliau.
Dan di antara nikmat dan karunia yang agung di masa kita sekarang ini, adalah nampaknya sunnah, terkalahkannya bid’ah, dan sambutan manusia dari belahan timur dan barat untuk berpegang teguh dengan manhaj (metode dan jalan dalam beragama) yang penuh berkah,yakni manhaj salafi. Dan juga sambutan mereka untuk bernaung di bawah panji ahlussunnah as-salafiyin yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan hak itu pula mereka menjalankan keadilan. (Yang mereka terdiri dari) para sahabat yang baik, para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, para imam yang mendapat petunjuk seperti imam yang empat dan siapa saja dari para ulama yang taat yang menempuh jalan mereka, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdilwahhab dan selain mereka dari kalangan para ulama yang tulus dan baik.
Dan di antara keajaiban perbuatan Allah ta’ala, bahwa ahlul batil (para pengikut kebatilan) telah mengerahkan tentara berkuda dan pasukan pejalan kaki mereka untuk menghalangi jalan ahlussunnah as-salafiyin. Mereka melariskan kebatilan-kebatilan mereka, mengada-adakan kedustaan, membuat-buat syubhat, dan mengadakan makar yang besar. Akan tetapi, Allah enggan melainkan Dia akan menampakkan cahaya-Nya, menolong sunnah Nabi-Nya – shollallohu ‘alaihi wa sallam – maka Dia pun melapangkan dada-dada untuk (menerima) akidah yang murni ini, menggiring hati-hati manusia untuk menuju manhaj as-Salaf (pendahulu umat Islam) yang shalih, menelantarkan ahlul batil, dan mengembalikan tipu daya mereka. Maka segala puji hanya bagi Allah semenjak awal hingga terakhir, secara lahir dan batin.
Terhadap kenikmatan penuh berkah yang kita rasakan ini pada hari ini, bagi seorang mukmin yang bertauhid ada adab-adab syar’i dan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan. Di antaranya:
Pertama: Memuji dan bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Karena kenikmatan akan menjadi langgeng dengan adanya syukur, dan akan hilang dengan ketiadaan syukur. Dan nikmat yang berkaitan dengan agama ini, bagi seorang yang bertauhid adalah lebih agung daripada kenikmatan yang berkaitan dengan dunia.
Kedua: Kokoh dan konsisten di atas akidah yang murni, serta berusaha menolong, membela dan menyebarkan akidah ini dengan usaha yang lebih besar dari yang ada sekarang. Karena jika Ahlussunnah mengabaikan dakwah mengajak manusia kepada akidah mereka dan membantah apa saja yang bertentangan dengan akidah ini, niscaya para pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan akan menguasai mereka, sehingga mereka akan membuat kerusakan terhadap para pemuda dan orang-orang awam.
Ketiga: Bersemangat dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu. Karena akidah ini hanya akan ditolong dengan ilmu, hujjah dan burhan. Sedangkan ahlu bathil memiliki banyak syubhat dan kebatilan yang tidak mungkin ditolak oleh seorang salafi kecuali jika dia memiliki ilmu dan penjelasan.
Dakwah salafiyah yang pelakunya memperhatikan ilmu dan pengajarannya, akan tetap langgeng, tersebar dan membuahkan hasil. Seperti dakwahnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – qoddasallohu ruhahu (semoga Allah mensucikan ruh beliau) – dan para murid beliau seperti Ibnul Qayyim, al-Hafizh Ibnu Katsir. Juga seperti dakwahnya al-Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdilwahhab – semoga Alloh mengampuni beliau, melimpahkan balasan dan pahala yang banyak kepadanya -, yang mana beliau tidaklah meninggal dunia kecuali telah meninggalkan begitu banyak murid-murid yang melaksanakan dakwah dan penjelasan, sehingga mereka pun setelah itu menjadi ulama di berbagai negri dan menjadi penolong sunnah dengan hujah dan burhan.
Begitu pula dengan dakwah-dakwah salafiyah yang merupakan buah dari dakwah ishlahiyah (dakwah menuju perbaikan) itu, di seluruh negri-negri Islam. Seperti dakwah (yang dilakukan oleh) Ahlul Hadits di India dan sekitarnya, dakwah Anshorussunnah di Mesir, dakwah al-Allamah al-Albani di Syam, al-Allamah Taqiyuddin al-Hilali di Maghrib (Maroko), dakwah al-Allamah Muqbil al-Wadi’i di negri Yaman, dan dakwah-dakwah ishlahiyah lain yang berdiri di atas ilmu dan pengajaran. Dan dakwah (mengajak manusia) kepada Allah yang dilandasi dengan bashiroh (ilmu dan keyakinan) dan petunjuk, akan tetap langgeng dan kokoh.
Dan di antara yang bisa melemahkan dakwah salafiyah:
Berpalingnya sebagian pengikut dakwah ini dari ilmu dan pengajaran serta hafalan matan dan pembelajaran sunnah-sunnah, kepada qila wa qola (isu yang merebak). Padahal Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – telah melarangnya. Maka sebagian mereka mencukupkan diri dengan penisbatan kepada salafiyah, tanpa belajar dan memahami manhaj salaf dan ilmu-ilmu mereka. Dan perkaranya menjadi lebih buruk jika orang-orang awam itu menonjolkan diri dalam kancah dakwah salafi, sehingga mereka membuat kerusakan dimana mereka menghendaki kebaikan. Sedangkan ahlussunnah – dengan memuji Allah – kepemimpinan menurut mereka di dalam agama, adalah bagi ahlul ilmi (ulama) yang tulus menghendaki kebaikan dengan nasihat. Sebagaimana datang dalam sebuah hadits,
حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ ؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً ، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sehingga jika tidak lagi tersisa seorang alim, maka manusia pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
Dan nasihatku kepada siapa saja di antara saudara kami salafiyin yang telah Allah karuniai ilmu, hendaknya dia mendermakan ilmunya di masjid-masjid, di tempat-tempat taklim dan selainnya. Hendaknya dia duduk mengajari manusia urusan agama mereka, dan membuka pandangan mereka tentang manhaj salafi.
Keempat: Semangat dalam mendakwahkan manhaj salafi. Karena seorang salafi yang tulus adalah kunci kebaikan bagi saudara-saudaranya. Mendakwahi mereka dengan ilmu, hikmah dan kejelasan dalam dakwah. Mewaspadai (dan menghindari) penyembunyian kebenaran karena memperhatikan makhluk dengan alasan hikmah! Karena sesungguhnya hal ini menyelisihi perintah Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah dengan gamblang.
Kelima: Memurnikan diri untuk kebenaran dan menjauhi sikap tahazzub terhadap individu-individu (menjadikan individu tertentu sebagai patokan dalam mencintai dan memusuhi – pent). Ketika Ahlussunnah salafiyin melarang sikap ta’ashub (fanatik) kepada para imam besar yang menjadi panutan seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Malik, asy-Syafi’i dan yang lain, lalu bagaimana dengan orang-orang yang di bawah mereka?! Dan ketika Ahlussunnah dengan penghormatan dan pengagungan mereka terhadap para imam, serta pembelajaran mereka terhadap kitab-kitab para ahli fikih agama ini, mereka tetap saja melarang ta’ashub madzhabi (fanatik kepada madzhab tertentu),karena yang dijadikan sandaran adalah dalil syar’i.
Maka aku katakan: jika demikian perkaranya, maka mereka pasti melarang dari sesuatu yang dinamakan oleh al-Allamah al-Albani – semoga Allah mengampuni beliau – dengan “Ta’ashub kepada para guru”. Karena sungguh hal ini telah muncul dan tumbuh dalam tubuh dakwah salafiyah, hizbiyah yang tersamar! Engkau melihat mereka memberikan peringatan dari hizbiyah yang dibenci, sedangkan mereka sendiri terjerumus ke dalam salah satu jenis hizbiyah, baik mereka rasakan maupun tidak! Dan engkau lihat hal ini dengan jelas ketika terjadi perselisihan dan perdebatan?! Ya Allah, cukupkanlah kami dari kejelekan fitnah-fitnah, yang lahir maupun yang batin…
Dan yang menjadi kewajiban seorang salafi adalah mencari kebenaran, menjadi pengikut dalil, dengan tetap menghormati para imam dan ulama.
Keenam: Saling menyayangi sesama mereka. Dahulu, para salaf mengatakan, “Jika engkau mendengar ada seorang Ahlussunnah di belahan timur atau barat, maka kirimkanlah salam kepadanya, (karena) alangkah sedikitnya Ahlussunnah.” Dan Allah telah menyifati pendahulu kita yang shalih bahwa mereka adalah orang-orang yang berkasih sayang sesama mereka. Maka hendaknya hal ini menjadi ciri Ahlussunnah, dan menjadi akhlak mereka yang diperhatikan dalam belajar dan pengajaran kepada saudara mereka dan dalam meberikan nasihat kepada mereka serta dalam bermuamalah sesama mereka. Jika kasih sayang ini telah dicabut dari sesama Ahlussunnah, niscaya mereka akan berpecah belah, berselisih, dan para pengikut hawa nafsu akan mencuri orang yang lemah dari kalangan Ahlussunnah. Ya Allah, tetapkanlah kami, Yaa ‘Aziz ya Ghoffar!
Ketujuh: Berhati-hati dari berkata atas nama Allah tanpa ilmu, dan berhati-hati agar seseorang tidak memasuki perkara yang tidak perlu baginya. Pada hari ini – dengan memuji Allah – tidak ada satu negri pun yang kosong dari Ahlussunnah. Dan (keadaan) mereka ada beberapa golongan: di antara mereka ada yang awam, dan banyak dari para pemuda kita yang termasuk golongan ini. Di antara mereka ada para penuntut ilmu, yang mereka bertingkat-tingkat. Dan di antara mereka ada orang yang alim. Maka kewajiban seorang yang masih awam adalah mengetahui kedudukan dirinya, tidak boleh baginya ikut masuk membicarakan perkara agama yang tidak dia mampui dengan alasan untuk menolong sunnah! Karena sesungguhnya sunnah tidaklah ditolong dengan pembicaraan tentang agama Allah tanpa ilmu.
Dan kewajiban seorang salafi yang awam, tidak menonjolkan diri untuk berdebat dengan para pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan. Sering mereka membuat kerancuan agama terhadap salafi yang awam ini dengan berbagai syubhat yang ada pada mereka. Sedangkan dia tidak memiliki ilmu yang bisa membantah kesesatan dan syubhat-syubhat mereka.
Maka kewajiban seorang salafi yang awam dan juga pemuda salafi, menghadapkan diri dengan hati yang jujur dan sungguh-sungguh untuk menuntut ilmu dan bertanya kepada para ulama tentang perkara yang susah bagi mereka.
Kedelapan: Bersabar dan berbaik sangka kepada Allah. Jika para musuh telah menyatakan permusuhannya kepada kalian secara terang-terangan, maka berbaik sangkalah kepada Robb kalian dan yakinlah bahwa Allah pasti menolong dan memenangkan agama-Nya, memuliakan wali-waliNya. Lihatlah orang yang telah mendahului kalian dari kalangan Ahlussunnah, seperti Imam Mubajjal Ahmad bin Hanbal. Ketika terjadi fitnah, tinggallah beliau sendirian menyampaikan kebenaran secara terang-terangan, dan bersabar atas gangguan yang menimpa. Sampai akhirnya Allah memenangkan urusannya, memuliakan kedudukannya dan menjadikan kecintaan terhadap beliau ada pada hati-hati orang yang bertauhid.
Maka bersabarlah – semoga Allah memberkahi kalian – jangan merasa lemah dan jangan bersedih. Ketahuilah, bahwa tipu daya syaithan dan golongannya adalah lemah, sedangkan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Kesembilan: Berwaspada dari pintu-pintu masuk syaithan dan golongannya. Karena mereka senantiasa berusaha membuat kerusakan di antara Ahlussunnah salafiyin, membangkitkan fitnah di tengah-tengah mereka, mengobarkan kemarahan dalam dada-dada mereka, menabur benih permusuhan di antara mereka dengan namimah (adu domba), penyebaran kedustaan, peragu-raguan seorang salafi terhadap saudaranya, dan menyampaikan persangkaan-persangkaan dusta. Sehingga akhirnya kalimat persatuan pun menjadi tercerai berai, dan sesama saudara saling bermusuhan. Allah ta’ala berfirman,
لَوْ خَرَجُوا فِيكُم مَّا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ
“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka.” (at-Taubah: 47)
Dan kewajiban seorang salafi adalah membela kehormatan orang yang beriman. Jika ada suatu kebatilan yang disandarkan kepada saudaranya yang telah dikenal dengan sunnah, maka dia wajib mengamalkan ayat yang mulia ini, yang telah Allah jadikan sebagai adab bagi kita. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَا سُبْحَانَكَ هٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ
“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” (an-Nur: 16)
Kesepuluh: Tawadhu’ dan bersikap lembut terhadap ahlussunnah salafiyin. Termasuk musibah dan bencana yang menghinakan, adanya seseorang yang terpedaya dengan amalannya. Jika muncul darinya satu bentuk pertolongan terhadap dakwah salafiyah ini, dia merasa tinggi di atas saudara-saudaranya dengan keutamaan ini. Dia melihat bahwa dialah yang paling berhak dari pada yang lainnya – meskipun yang lain lebih berilmu, lebih bertakwa dan lebih memberi manfaat dari pada dia -. Semacam ini, akan bisa merusak keutamaan tersebut. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang yang terluka di jalan-Nya. Orang yang masih hidup memang tetap dikhawatirkan terkena fitnah. Maka kita memohon kepada Allah, keikhlasan dan kemantapan serta kekokohan di atas sunnah.
Dan kewajiban seorang salafi jika mempunyai suatu andil dalam menolong sunnah, adalah memuji Allah atas kenikmatan dan keutamaan ini. Dia memohon keikhlasan kepada Allah, memohon agar amalnya diterima, dan agar dia bisa bersikap lembut terhadap saudara-saudaranya, dengan terus menyampaikan nasihat kepada mereka, dan mengharapkan kebaikan bagi mereka.
Semoga Allah memberkahi kesungguhan, meluruskan langkah, memberi taufik kepada saudara-saudara kita kepada jalan yang lurus, menetapkan kita dan mereka di atas sunnah sampai kita menjumpai-Nya. Semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, dan para sahabat beliau.
Ditulis oleh:
Sulthon bin Abdirrohman al-’Ied
Dengan memuji kepada Allah, bersholawat dan bersalam kepada Rasul-Nya.
Pada permulaan Jumada al-Ula tahun 1429 H
Sumber : http://www.sultanal3eed.com
Selengkapnya...
Minggu, 16 Agustus 2009
Ikutilah al-Kitab dan as-Sunnah...!!!

Hadits-hadits pilihan dari Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah Sahih Bukhari disertai beberapa keterangan tambahan
Bukhari meriwayatkan dari Thariq bin Syihab radhiyallahu’anhu, ada seorang lelaki Yahudi berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya turun kepada kami (Yahudi) ayat ini, ‘Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian’ niscaya hari itu akan kami jadikan sebagai hari raya.” Maka Umar mengatakan, “Sesungguhnya aku tahu kapan hari turunnya ayat ini. Ia turun pada hari Arafah di hari Jumat.” (HR. Bukhari [7268]).
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi mengatakan, “Maka perbuatan mengada-ada atau menciptakan bid’ah pada hakikatnya merupakan sanggahan kepada syari’at dan tindakan lancang yang sangat buruk, orang yang melakukannya -secara tidak langsung- telah menyerukan bahwa syari’at ini belum cukup dan belum sempurna [!] sehingga butuh untuk menciptakan hal yang baru dan bid’ah di dalamnya!!” (Ilmu Ushul Bida’, hal. 19).
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?”. Beliau menjaw ab,”Barangsiapa yang menaatiku niscaya masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dia lah orang yang enggan.” (HR. Bukhari [7280]).
Ibnu Hajar mengatakan, “Apabila yang tidak taat itu adalah orang kafir maka sama sekali dia tidak akan masuk surga. Dan apabila dia adalah muslim maka maksudnya adalah dia akan terhalang masuk surga bersama dengan orang-orang yang memasukinya sejak awal kecuali orang yang dikehendaki Allah ta’ala.” (Fath Al-Bari, 13/291).
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah ajaran yang aku tinggalkan kepada kalian ini apa adanya, sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian itu hanyalah disebabkan karena terlalu banyak mempertanyakan dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Apabila aku melarang sesuatu kepada kalian maka jauhilah, dan apabila aku memerintahkan sesuatu maka laksanakanlah sekuat kemampuan kalian.” (HR. Bukhari [7288]).
Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari emas dan orang-orang pun ikut memakai cincin dari emas, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu aku memakai cincin dari emas.” Kemudian beliau membuangnya dan berkata, “Sekarang aku tidak akan memakainya lagi untuk selama-lamanya.” Maka orang-orang (para sahabat) pun membuang cincin-cincin mereka (HR. Bukhari [7298]).
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan sesuatu yang beliau sendiri memberikan keringanan atasnya namun sebagian orang malah tidak mau melakukannya. Maka kejadian itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memuji Allah lalu berkata, “Apa gerangan yang menimpa diri orang-orang yang menjauhkan dirinya dari sesuatu yang aku sendiri melakukannya. Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya dibandingkan mereka semua.” (HR. Bukhari [7301]).
Bukhari meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang selalu menang hingga datang kepada mereka ketetapan Allah sedangkan mereka dalam keadaan menang.” (HR. Bukhari [7311]).
Ibnu Hajar menukil bahwa Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Imam Ahmad, beliau mengatakan, “Apabila mereka itu bukan ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu.” (Fath Al-Bari, 13/336).
Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan sampai-sampai apabila mereka memasuki lubang dhabb sekalipun maka kalian pun akan memasukinya.” Kami bertanya, “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi” (HR. Bukhari [7320]).
Bukhari meriwayatkan dari Amr bin Al-’Ash radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hakim berijtihad kemudian benar maka dia akan mendapatkan dua pahala, dan apabila dia berijtihad lalu salah maka dia akan mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari [7352]).
Ibnu Hajar menerangkan bahwa yang dimaksud dua pahala adalah pahala ijtihad dan pahala benar, sedangkan yang dimaksud satu pahala adalah pahala ijtihad saja (lihat Fath Al-Bari, 13/365). Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizani mengatakan berdalil dengan hadits ini, “Dengan hal itu dapat dimengerti bahwa kebenaran di sisi Allah itu hanyalah satu tidak berbilang, dan menunjukkan bahwa orang yang benar di antara kedua ahli ijtihad [yang berselisih itu] hanya satu, tidak setiap mujtahid itu benar.” (Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 488).
Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu’anhu, bahwa dahulu ada seorang perempuan dari Anshar yang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membicarakan sesuatu, maka Nabi pun memerintahkan sesuatu kepadanya. Lalu perempuan itu berkata, “Bagaimana pendapat anda wahai Rasulullah, jika saya tidak bertemu dengan anda?”. Maka beliau bersabda, “Jika kamu tidak bertemu denganku maka datanglah kepada Abu Bakar.” (HR. Bukhari [7360]).
Ibnu Hajar menerangkan bahwa keterangan sebagian ulama yang menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pendapat yang benar, akan tetapi hal itu berupa isyarat saja bukan secara tegas (lihat Fath Al-Bari, 13/380).
Sumber: http://abu0mushlih.wordpress.com
Selengkapnya...













